Senin, 17 Februari 2020

ANALISIS WACANA LIRIK LAGU CAMPURSARI “LAYANG KANGEN” DAN “SEWU KUTHA” TINJAUAN KONTEKSTUAL DAN TEKSTUAL KARYA DIDI KEMPOT







BAB I
PENDAHULUAN

A.      Latar Belakang Masalah
Karya seni merupakan salah satu bentuk hasil ciptaan manusia yang bersumber dari akal pikiran dan perasaan. Sebuah karya seni lahir karena adanya keinginan pengarang untuk mengkomunikasikan rasa serta pikirannya kepada orang lain. Sebalikya, seorang pengarang tentu tidak akan berkreasi kalau pikirannya dalam keadaan kosong. Ia selalu bertumpu pada sesuatu yang sebelumnya sudah ada. Sentuhan penggambaran suasana dan keadaan yang diungkapkan seorang pengarang tidak bisa lepas dari lingkungan sosial dan pengalaman dirinya. Pengarang bertindak sebagai penutur ingin mengekspresikan gagasan-gagasannya kepada masyarakat.
Masyarakat dapat menikmati karya seni melalui lagu. Berdasarkan isinya, lagu bisa dikategorikan dalam lagu himne, lagu perjuangan, lagu religi, dan lagu parody. Berdasarkan bentuknya, lagu dapat digolongkan dalam lagu klasik, campursari, keroncong, dangdut, jaz, dan popular.Lagu memiliki bermacam-macam fungsi, salah satu fungsinya adalah sebagai sarana hiburan. Lagu mempunyai kekuatan untuk mempengaruhi suasana batin seseorang yang sedang dirundung kegembiraan dan kesedihan.
Campursari merupakan lagu yang bersyair bahasa Jawa dengan menggunakan musik popular pada umumnya. Istilah campursari  berasal dari kata campur ‘gabung’ dan sari ‘tepung sari/bakal buah’. Secara harfiah campursari dapat diartikan sebagai penggabungan beberapa unsur yang berbeda untuk membuahkan sesuatu yang baru. Pada mulanya istilah ini digunakan sebagai nama keasenian gabungan keroncong lan kerawitan ‘keroncong dan musik tradisional Jawa (gamelan)’ (Sudaryanto, 2001: 137). Jadi, bisa disintesiskan bahwa campursari merupakan aliran musik perpaduan tradisional Jawa dengan musik modern. Perpaduan dua hal inilah yang kemudian membuat campursari menjadi menarik untuk dinikmati.
Wacana lagu campursari “Layang Kangen” dan “Sewu Kutha” merupakan wacana lagu yang ditulis dalam bahasa Jawa yang dapat disamakan dengan puisi Jawa modern atau geguritan. Lagu ini berisi tentang penantian dan pencarian seorang yang sangat merindukan kekasihnya. Lagu-lagu tersebut biasa dinyanyikan dalam pesta-pesta pernikahan. Lagu “Layang Kangen” dan “Sewu Kutha” adalah lagu ciptaan Didi Kempot yang memiliki konteks situasi maupun konteks kultural masa kini yang sangat baik untuk dikaji lebih mendalam.
Berdasarkan uraian di atas, perlu dilakukan penelitan analisis kontekstual dan tekstual dalam lagu campursari “Layang Kangen” dan “Sewu Kutha”.

B.       Permasalahan
Berdasarkan latar belakang di atas, permasalahan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut.
1.    Bagaimana tinjauan kontekstual dalam wacana lagu campursari “Layang Kangen” dan
     “Sewu Kutha”?
2.    Bagaimana tinjauan tekstual dalam wacana lagu campursari “Layang Kangen” dan
     “Sewu Kutha”?

C.      Tujuan Penelitian
Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah sebagai berikut.
1.    Menganalisis tinjauan kontekstual dalam wacana lagu campursari “Layang Kangen” dan
    “Sewu Kutha”?
2.    Bagaimana tinjauan tekstual dalam wacana lagu campursari “Layang Kangen” dan
     “Sewu Kutha”?

D.      Manfat Penelitian
Penelitian ini bermanfaat baik secara teoretis maupun praktis.
a. Manfaat teoretis
Hasil penelitian diharapkan dapat memperkaya khasanah wacana lagu campursari terutama tinjauan kontekstual dan tekstual.
b. Manfaat Praktis
1.      Hasil penelitian diharapkan dapat menjadi acuan dan pertimbangan oleh peneliti lain dalam melakukan penelitian sejenis.
2.      Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi pembaca, penyanyi dan penggemar lagu campursari.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Kajian Pustaka
Beberapa penelitian yang mengambil objek wacana dalam lagu campursari dapat dijadikan sebagai kajian pustaka dalam penelitian ini antara lain: penelitian yang pernah dilakukan Djoko Wijono (2005) dan Poniman (2005).
Djoko Wijono (2005) melakukan penelitian yang berjudul Analisis Wacana Lirik Lagu ‘Stasiun Balapan” dan “Tirtanadi’ Tinjauan Intertekstual, Aspek Gramatikal, dan Leksikal”. Masalah yang dikaji dalam penelitian tersebut mengenai tinjauan intertekstual, gramatikal, dan leksikal. Aspek gramatikal dalam dua lagu tersebut ditemukan pengacuan persona, pengacuan demonstratif, pengacuan komparatif, elipsis, dan konjungsi. Aspek leksikal lagu “Stasiun Balapan” terdapat repetisi, sinonimi, dan ekuivalensi. Sedangkan aspek leksikal lagu “Tirtanadi” terdapat repetisi, sinonimi, dan antonimi.
Poniman (2005) melakukan penelitian yang berjudul“Analisis Wacana Syair Lagu Kontroversial “Mendem Wedokan” Ciptaan Dr. Ganang Trikora W, SH”. Aspek tekstual dalam lagu tersebut ditemukasn aspek bunyi asonansi ’persamaan bunyi vokal’, dan aliterasi ‘persamaan bunyi konsonan’. Persajakan yang dominan pada syair lagu “Mendem Wedokan” adalah asonansi ‘persamaan bunyi vokal’. Pada aspek gramatikal lagu ini terdapat pengacuan persona, pengacuan demonstratif yakni penggantian “substitusi”, pelesapan “elipsis”, perangkaian “ konjungsi”. Aspek leksikal lagu ini ditemukan repetisi, sinonimi, antonimi, kolokasi, dan ekuivalensi.
Dari kedua penelitian di atas dapat diketahui bahwa penelitian wacana lirik lagu campursari sudah pernah dilakukan. Penelitian yang akan dilakukan ini bersifat melanjutkan penelitian-penelitian yang ada dan diharapkan dapat melengkapi hasil penelitian sebelumnya.

2.2 Landasan teoretis
Konsep-konsep yang digunakan dalam penelitian ini adalah definisi wacana, lirik lagu, kontekstual, dan tekstual.
2.2.1        Wacana
Dalam buku Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia (Alwi dkk Dekdikbud, 1993: 43) dikatakan bahwa wacana adalah rentetan kalimat yang bertautan sehingga terbentuklah makna yang serasi diantara kalimat-kalimat tersebut.
Bertalian erat dengan wacana, Sumarlam (2003: 15) menyatakan bahwa wacana adalah satuan bahasa terlengkap yang dinyatakan secara lisan seperti pidato, ceramah, khotbah, dan dialog, atau secara tertulis seperti cerpen, novel, buku, surat, dan dokumen tertulis, yang dilihat dari struktur lahirnya (dari segi bentuk) bersifat kohesif, saling terkait dan dari struktur batinnya (dari segi makna) bersifat koheren, terpadu.
Mulyana (2005: 1) memberikan penjelasan bahwa wacana merupakan unsur kebahasaan yang relatif paling kompleks dan paling lengkap. Satuan pendukung kebahasaanya meliputi fonem, morfem, kata, frasa, klausa, kalimat, paragraf, hingga karangan utuh. Secara singkat wacana adalah satuan bahasa terlengkap yang dibentuk dari rentetan kalimat yang kontiunitas, kohesif, dan koheren sesuai dengan kontekstual situasi. Dengan kata lain wacana adalah satuan-satuan tuturan yang merupakan realisasi bahasa dapat diwujudkan sekurang-kurangnya satu paragraf, paragraf dapat diwujudkan dalam satu kata atau lebih. Realisasi wacana dapat berupa karangan yang utuh yakni novel, buku, seri ensiklopedia dan realisasi wacana lisan adalah tuturan.
Tarigan (2009: 26) menyatakan wacana adalah satuan bahasa yang paling lengkap, lebih tinggi dari klausa dan kalimat, memiliki kohesi dan koherensi yang baik, mempunyai awal dan akhir yang jelas, berkesinambungan, dan dapat disampaikan secara lisan ataupun tertulis. Dari pengertian tersebut maka dalam menyusun wacana harus selalu mempertimbangkan unsur-unsurnya sehingga terbentuk menjadi wacana yang utuh.
Dari beberapa pernyataan di atas dapat diketahui bahwa wacana merupakan satuan bahasa terlengkap yang dinyatakan secara lisan ataupun tulis dan memiliki struktur lahir (dari segi bentuk) bersifat kohesif, saling terkait dan dari struktur batinnya (dari segi makna) bersifat koheren, terpadu.
2.2.2        Lirik Lagu
Pada prinsipnya terdapat persamaan antara syair lagu dengan puisi. Oleh karena itu, teori yang akan digunakan untuk mengupas syair, sama dengan yang digunakan dalam puisi.
Definisi puisi menurut Altenbernd dalam (Rachmat Djoko Pradopo, 1995: 5-6) adalah pendramaan pengalaman yang bersifat penafsiran (menafsirkan) dalam bahasa berirama (bermetrum) (as the interpretive dramatization of experience in metrical language).
Shahnon Ahmad dalam (Rachmat Djoko Pradopo, 1995: 7) menyebutkan garis besar sebuah puisi terdiri dari emosi, imajinasi, pemikiran, ide, nada, irama, kesan pancaindera, susunan kata, kata-kata kiasan, kepadatan, dan perasaan yang bercampur-baur.
Menurut Rachmat Djoko Pradopo (1995: 7) puisi mengekspresikan pemikiran yang membangkitkan perasaan. Juga merangsang imajinasi pancaindera dalam susunan yang berirama.
Herman J. Waluyo ( 2008: 77) menyatakan untuk memahami puisi, ada dua hal yang harus dimengerti dan dipahami pembaca, yakni struktur fisik dan struktur batin. Struktur fisik berkenaan dengan faktor kebahasaan. Struktur fisik puisi berkaitan dengan diksi, pengimajian, kata konkret, bahasa figuratif atau majas, versifikasi, dan tata wajah puisi atau tipografi. Struktur batin puisi terdiri dari: tema, perasaan atau feeling, nada dan suasana, serta amanat atau pesan. Berikut ini akan dibahas tiap struktur pembentuk puisi,baik struktur fisik maupun struktur batin.
1.      Struktur fisik
a.       Diksi (pemilihan kata)
1.      Hendaknya disadari bahwa kata-kata dalam puisi bersifat konotatif, artinya memiliki kemungkinan makna lebih dari satu. Kata-katanya juga dipilih yang puitis, yaitu memiliki efek keindahan dan berbeda dari kata-kata yang dipakai dalam kehidupan sehari-hari.
2.      Begitu pentingnya kata-kata dalam puisi, sehingga penyair berhati-hati dalam menggunakan. Berikut ini beberapa hal yang dapat dilakukan untuk memahami puisi yang berkaitan dengan diksi.
3.       Perbendaharaan kata
4.      Perbendaharaan kata penyair sangat penting sebagai kekuatan ekspresi sekaligus ciri khas penyair. Dalam memilih kata-kata, penyair mempertimbangkan makna yang akan disampaikan dan tingkat perasaan serta suasana batinnya. Selain itu, juga dilatarbelakangi oleh faktor sosial budaya penyair. Perbedaan asal, suku, agama, pendidikan, jenis kelamin akan menghasilkan diksi yang berbeda pula.
5.      Urutan kata
6.      Dalam puisi, urutan kata bersifat tetap. Artinya, urutan kata itu tidak bisa dipindahtempatkan. Tiap penyair atau penulis memiliki ciri khusus dalam meletakkan urutan kata-kata yang digunakan dalam puisinya.
7.      Daya sugesti kata-kata
8.      Dalam memilih kata-kata, penyair mempertimbangkan daya sugesti yang dimiliki kata-kata tersebut. Sugesti itu ditimbulkan oleh makna kata yang dipandang sangat tepat untuk mewakili perasaan penyair. Karena ketepatan pilihan dan penempatan kata-kata yang digunakan penyair, mampu memberikan sugesti kepada pembaca untuk ikut sedih, terharu, bersemangat, marah dan perasaan lainnya.
b.      Pengimajian
Pengimajian ditandai dengan penggunaan kata-kata konkret dan khas. Adapun imaji yang biasanya dimunculkan yakni imaji visual, imaji auditif, imaji taktil. Ketiganya digambarkan atas bayangan konkret apa yang dapat kita hayati secara nyata. Pengimajian juga berarti mengingatkan kembali pengalaman yang pernah terjadi. Pengimajian disebut juga pencitraan.
Pengimajian dapat dibatasi dengan pengertian kata atau susunan kata yang dapat mengungkapkan pengalaman sensoris, seperti penglihatan, pendengaran, dan perasaan (Herman J Waluyo, 2008: 91).
Effendi dalam (Herman J Waluyo, 2008: 93) menyatakan pengimajian dalam sajak dapat dijelaskan sebagai usaha penyair untuk menciptakan atau menggugah timbulnya imaji dalam diri pembacanya. Diharapkan pembaca tergugah untuk menggunakan mata untuk melihat benda-benda, warna. Dengan telinga dapat mendengar bunyi-bunyian dan dengan perasaan dapat menyentuh kesejukan dan keindahan benda dan warna.
c.       kata konkret
Untuk membangkitkan imaji atau daya baying pembaca, maka kata-kata yang digunakan harus konkret. Maksudnya, kata-kata itu dapat merujuk pada makna kata secara menyeluruh. Kata yang konkret berkaitan erat dengan penggunaan kiasan dan lambang. Semakin pandai penyair mengkonkretkan kata, maka pembaca seolah-olah melihat, mendengar, atau merasakan apa yang dilukiskan oleh penyair.
d.      Bahasa figuratif atau majas
Bahasa figuratif merupakan bahasa yang memiliki makna kias atau bukan makna sebenarnya. Bahasa figuratif digunakan penyair untuk mengatakan sesuatu dengan cara yang tidak biasa, yakni tidak langsung mengungkapkan maknanya. Bahasa figuratif dipandang lebih efektif untuk menyatakan maksud penyair karena: (1) bahasa figurative mampu menghasilkan kesenangan imajinatif, (2) bahasa figurative adalah cara untuk menghasilkan imajinasi tambahan dalam puisi, sehingga yang abstrak jadi konkret dan menjadikan puisi lebih nikmat untuk dibaca, (3) bahasa figurative merupakan cara menambah intensitas perasaan penyair untuk puisinya dan menyampaikan sikap penyair, (4) bahasa figuratif merupakan cara untuk mengkonsentrasikan makna yang hendak disampaikan (Perrine dalam Herman J Waluyo, 2008: 96-97).
e.       Versifikasi (rima dan ritma)
Rima merupakan pengulangan bunyi dalam puisi untuk membentuk musikalitas. Dengan pengulangan bunyi ini, puisi menjadi merdu jika dibaca. Untuk mengulang bunyi ini, pemilihan bunyi-bunyi mendukung perasaan dalam suasana puisi. Ritma berhubungan erat dengan bunyi dan juga pengulangan bunyi, kata, frasa, dan kalimat. Ritma juga dapat dibayangkan seperti tembang mocopat dalam tembang Jawa. Ritma berasal dari bahasa Yunani yang berarti gerakan-gerakan air yang teratur, terus-menerus, dan tidak putus-putus.
f.       Tata wajah puisi atau tipografi
Tipografi lebih kepada bentuk puisi itu sendiri. Bentuk puisi yang nampak secara fisik. Bagaimana penulis menyusun dan menata kata demi kata yang digunakan, sehingga membantu pembaca dalam memahami makna puisi. Tipografi merupakan pembeda yang penting antara puisi dengan prosa dan drama. Puisi konvensional tidak memiliki tipografi yang rumit. Umum saja terdiri dari beberapa bait, tiap bait terdiri dari beberapa baris atau larik. Sementara dalam puisi inkonvensional memang sering dijumpai bentuk puisi yang sedikit berbeda, terutama pada puisi-puisi Sutardji Calzoum Bachri.
2.      Struktur batin
Struktur ini mengungkapkan apa yang hendak dikemukakan oleh penyair dengan perasaan dan suasana jiwanya.
a.       Tema (Sence)
Tema merupakan gagasan pokok atau subject-master yang dikemukakan oleh penyair yang menjadi landasan utama penulisannya. Tema puisi harus dihubungkan dengan penyairnya dengan konsep-konsep yang terimajinasikan. Oleh karena itu, tema bersifat khusus (penyair), tetapi objektif (bagi semua penafsir), dan lugas (tidak dibuat-buat). Tema-tema dalam puisi biasanya ketuhanan, kemanusiaan, patriotism atau kebangsaan, kedaulatan rakyat, dan keadilan sosial.
b.      Perasaan (Feeling)
Dalam menciptakan puisi, suasana perasaan penyair ikut diekspresikan dan harus dapat dihayati oleh pembaca. Untuk mengungkapkan tema yang sama, tiap penyair memiliki perbedaan dalam mengungkapkannya. Oleh karena itu, meskipun temanya sama, tetapi puisi yang dihasilkan akan berbeda.
c.       Nada dan Suasana (Intention)
Dalam menulis puisi, penyair mempunyai sikap tertentu terhadap pembaca. Sikap itu bisa berupa menggurui, menasihati, mengejek, menyindir, atau bersikap lugas. Jika nada merupakan sikap penyair terhadap pembaca, maka suasana adalah keadaan jiwa pembaca setelah membaca puisi itu atau akibat psikologis yang ditimbulkan terhadap pembaca.
d.      Amanat atau Pesan
Amanat berhubungan dengan makna karya sastra (meaning and significance). Amanat yang hendak disampaikan oleh penyair secara sadar berada dalam pikiran penyair, tetapi lebih banyak penyair tidak sadar akan amanat yang diberikan. Tafsiran tentang amanat puisi mungkin dan dapat berbeda-beda. Untuk memahami amanat puisi perlu dipahami dasar pandangan, filosofi, dan aliran yang dimuat oleh pengarang. Ketajaman apresiasi pembaca dalam menentukan amanat penyair ditentukan oleh pengalamannya bergulat membaca dan terlibat secara penuh dengan puisi.
2.2.3 Kontekstual
Kontekstual bahasa disebut juga kontekstual internal, sedangkan segala sesuatu yang melingkupi wacana, baik kontekstual situasi maupun budaya disebut dengan kontekstual eksternal. Selain pemahaman tentang kontekstual, tekstual juga merupakan proses yang sangat penting dalam memahami wacana. Tekstual adalah proses yang harus dilakukan penikmat untuk memahami maksud pembicara atau penulis. Pemahaman ini tidak bisa dilakukan secara harfiah, melainkan harus didasari pula pemahaman makna berdasarkan kontekstual sosial dan budaya. Pemahaman kontekstual, baik internal maupun eksternal merupakan dasar tekstual atau pengambilan simpulan.
Pemahaman kontekstual situasi dan budaya dalam wacana dapat dilakukan dengan berbagai prinsip penafsiran. Prinsip yang dimaksud ialah prinsip penafsiran personal, prinsip penafsiran lokasional, dan prinsip penafsiran temporal. Pemahaman wacana melalui berbagai prinsip penafsiran dan analogi itu tentu saja akan dipengaruhi faktor sosial, situasional, kultural, dan pengetahuan tentang dunia.
1.      Prinsip Penafsiran Personal
Prinsip ini berkaitan dengan siapa sesungguhnya yang menjadi partisipan dala suatu wacana. Dalam hal ini, siapa penutur dan siapa mitra tutur sangat menentukan makna sebuah tuturan. Segala hal yang berkaitan orang yang berbicara, baik dari usia maupun jenis kelamin.
2.      Prinsip Penafsiran Lokasional
Prinsip ini berkenaan dengan penafsiran tempat atau lokasi terjadinya suatu situasi, baik berupa keadaan, peristiwa, dan proses dalam rangka memahami wacana.

3.      Prinsip Penafsiran Temporal
Prinsip penafsiran temporal berkaitan dengan pemahaman mengenai waktu. Berdasarkan kontekstual wacana dapat diketahui atau ditafsirkan kapan atau berapa lama waktu terjadinya suatu situasi. Situasi dalam wacana bisa berupa peristiwa, keadaaan, maupun proses.
Sejalan dengan kontekstual wacana, Sumarlam (2008: 72-73) menyatakan bahwa kontekstual wacana adalah aspek-aspek internal wacana dan segala sesuatu yang secara eksternal melingkupi sebuah wacana. Kontekstual wacana dapat dibedakan menjadi dua kelompok, yaitu kontekstual bahasa dan kontekstual luar bahasa. Kontekstual bahasa disebut ko-teks, sedangkan kontekstual luar bahasa disebut dengan kontekstual situasi dan kontekstual budaya.
Muhammad Rohmadi (2011: 72-73) menyatakan  bahwa konteks memiliki peran penting untuk mengungkap makna yang ada dalam teks.
Berdasarkan beberapa pendapat di atas, dapat ditegaskan bahwa kontekstual merupakan bagian dari ruang lingkup wacana yang menunjukkan situasi keadaan guna mengungkap makna yang ada di dalam teks.
2.2.4      Tekstual
Muhammad Rohmadi (2011: 73) menyatakan teks adalah semua bentuk bahasa, bukan hanya kata-kata yang tercetak di lembar kertas, tetapi juga semua jenis ekspresi komunikan, ucapan, musik, gambar, efek suara, citra, dan sebagainya. Teks media yang menunjuk pada suatu teknologi memungkinkan untuk memproduksi wacana dalam bentuk teks. Suara, musik, dan berbagai hal lain hasil produksi teknologi tersebut dapat disebut sebagai teks.
Sejalan dengan pemikiran tersebut Graddol, Petter Garret, dan Allan Bell dalam (Muhammad Rohmadi, 2011: 73) menyatakan bahwa teks dapat dipahami sebagai artefak komunikasi dan lebih jauh adalah produk dari teknologi.
Merujuk dua pendapat di atas maka dapat ditegaskan bahwa tekstual merupakan berbagai macam bentuk bahasa sebagai bentuk komunikasi.





BAB III
METODE PENELITIAN

3.1 Pendekatan Penelitian
Penelitian ini menggunakan dua pendekatan, yaitu pendekatan teoretis dan pendekatan metodologis. Pendekatan teoretis dalam penelitian ini menggunakan pendekatan analisis wacana. Tujuan analisis wacana adalah untuk mengungkapkan kaidah kebahasaan yang mengkonstruksi wacana, memproduksi wacana, memahamai wacana, dan melambangi suatu hal dalam wacana. Tujuan analisis wacana adalah untuk memberikan wacana (sebagai salah satu eksponen bahasa) dalam fungsinya sebagai alat komunikasi.
Pendekatan metodologis penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif dan kualitatif. Pendekatan deskriptif merupakan pendekatan yang lebih menandai pada hasil penelitian yang bersangkutan dengan bahasa dengan cara menandai cara penggunaan bahasa tahap demi tahap, langkah demi langkah. Sedangkan pendekatan kualitatif yang digunakan dalam penelitian ini sebagai prosedur dalam memecahkan masalah yang sedang diteliti dengan cara mendeskripsikan atau menggambarkan masalah. Deskripsi masalah terhadap objek penelitian yang dipilih didasarkan pada fakta-fakta apa adanya. Pendekatan ini digunakan dengan maksud untuk memecahkan masalah yang sedang dihadapi oleh peneliti.

3.2 Data dan Sumber Data
Data penelitian ini adalah lagu campursari “Layang Kangen” dan “Sewu Kutha”. Wacana lirik lagu campursari dianalisis dari kontekstual dan tekstual. Sumber data yang digunakan adalah teks lirik lagu campursari “Layang Kangen” dan “Sewu Kutha”.

3.3 Metode Pengumpulan Data
Dalam penelitian ini, menggunakan metode simak. Metode simak dipilih karena objek yang diteliti berupa bahasa yang sifatnya teks. Metode simak juga harus disertai dengan teknik catat, yang berarti peneliti mencatat data yang dinilai tepat dalam kajian analisis kesinambungan wacana pada sebuah kartu data. Adapun langkah-langkah yang dilakukan adalah sebagai berikut:
1. Simak
Menyimak adalah langkah awal yang dilakukan dengan memperlihatkan dan mempelajari dengan seksama objek yang diteliti yaitu wacana lagu campursari “Layang Kangen” dan “Sewu Kutha”.
2. Mencatat
Pencatatan dilakukan setelah data yang berupa wacana lirik lagu campursari “Layang Kangen” dan “Sewu Kutha” tersebut dinilai cukup untuk dijadikan data penelitian. Data kemudian dicatat dan dianalisis mengenai tinjauan kontekstual dan tekstual.

3.4 Metode Analisis Data
Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif. Peneliti menganalisis kontekstual dan tekstual dalam lirik lagu campursari “Layang Kangen” dan “Sewu Kutha”, kemudian mendeskripsikannya secara sistematis. Untuk mengetahui kontekstual dan tekstual lirik lagu tersebut digunakan metode agih, yaitu metode yang alat penentunya merupakan bagian dari bahasa yang bersangkutan, yaitu berupa wacana tulis yang dibentuk dengan menggunakan bahasa.

3.5 Metode Penyajian Hasil Analisis Data
Hasil analisis data dalam penelitian ini disajikan dengan menggunakan metode penyajian informal. Penyajian hasil analisis data secara informal adalah penyajian hasil analisis data dengan menggunakan kata-kata yang biasa (Sudaryanto, 1993: 145). Dalam penyajian ini, kaidah-kaidah disampaikan dengan kata-kata biasa, kata-kata yang apabila dibaca dengan serta merta dapat langsung dipahami.


BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
ANALISIS WACANA KONTEKSTUAL DAN TEKSTUAL LIRIK
LAGU CAMPURSARI “LAYANG KANGEN” DAN “SEWU KUTHA”

4.1 Analisis Kontekstual Lirik Lagu Campursari “Layang Kangen” dan “Sewu Kutha”
1. Prinsip Penafsiran Personal
            Prinsip penafsiran personal berkaitan dengan siapa yang menjadi partisipan di dalam suatu wacana. Partisipan yang dimaksud yakni siapa penutur dan siapa mitra tutur, keduanya sangat menentukan makna sebuah tuturan. Untuk mengetahui pelibat wacana lirik lagu campursari “Layang Kangen” dan “Sewu Kutha”, mari kita simak kembali lirik lagu pada kutipan di bawah ini.
            Layang Kangen
(1)   Layangmu tak tampa wingi kuwi
‘Suratmu ku terima kemarin itu’
(2)   Wis tak waca apa karepe atimu
‘Sudah ku baca apa maksud hatimu’
(3)   Trenyuh ati iki, maca tulisanmu
‘Terharu hati ini, membaca tulisanmu’
(4)   Ra krasa netes eluh neng pipiku
‘Tidak terasa menetes air mata di pipiku’
(5)   Umpama tanganku dadi suwiwi
‘Seandainya tanganku menjadi sayap’
(6)   Iki uga aku enggal bali
‘Saat ini juga aku cepat pulang’
(7)   Wis kepiye maneh marga kahananku
‘Sudah bagaimana lagi karena keadaanku’
(8)   Cah ayu entenana tekaku
‘Anak cantik tunggulah kedatanganku’
(9)   Ra maidu sapa wong sing ora kangen
‘Tidak munafik siapa orang yang tidak kangen’
(10)    Adoh bojo pengen turu angel merem
Jauh istri ingin tidur susah memejam mata’
(11)    Ra maidu sapa wong sing ora trenyuh
‘Tidak munafik siapa orang yang tidak terharu’
(12)    Adoh bojo sawetara pengen weruh
‘Jauh istri sebentar ingin tahu’
(13)    Percaya aku kuwatna atimu
‘Percaya aku kuwatkan hatimu’
(14)    Cah ayu entenana tekaku
‘Anak cantik tunggulah kedatanganku’

Sewu Kutha
(1)   Sewu kutha uwis tak liwati
‘Seribu kota sudah aku lewati’
(2)   Sewu ati tak takoni
‘Seribu hati ku tanyai’
(3)   Nanging kabeh padha ra ngerteni
‘Namun semua tidak ada yang tahu’
(4)   Lungamu neng endi
‘Pergimu kemana’
(5)   Pirang taun anggonku nggoleki
‘Berapa tahun aku mencari’
(6)   Seprene durung bisa nemoni
‘Sampai saat ini belum bisa menemui’
(7)   Wis tak coba nglalekake, jenengmu saka atiku
‘Sudah kucoba melupakan, namamu dari hatiku
(8)   Saktenane aku ora ngapusi, isih tresna sliramu
‘Sesungguhnya aku tidak berbohong masih mencintai kamu’
(9)   Umpamane kowe uwis mulya, lila aku lila
‘Seandainya kamu sudah bahagia, rela aku rela’
(10)    Ya mung siji dadi panyuwunku
‘Ya hanya satu menjadi permintaanku’
(11)    Aku pengen ketemu
‘Aku ingin bertemu’
(12)    Senajan wektu mung sedhela
‘Meskipun waktu hanya sebentar’
(13)    Tak nggo tamba kangen jroning dhadha
‘Ku pakai obat rindu dalam dada’
(14)    Senajan sakedheping mata
‘Meskipun satu kedipan mata’
(15)    Tak nggo tamba kangen jroning dhadha
‘Ku pakai obat rindu dalam dada’
Berdasarkan aspek gramatikalnya, khususnya referensi pronomina persona, mudah diketahui bahwa pelibat wacana dalam lirik lagu “Layang Kangen” dan “Sewu Kutha” adalah persona pertama tunggal akuaku, saya’ dan pronomina persona kedua tunggal –mu ‘-mu’. Unsur (seseorang atau nama orang) yang diacu oleh pronomina persona aku ‘aku’ tidak dapat ditemukan di dalam lagu tersebut karena sifat acuannya yang eksoforis. Sementara itu, unsur yang diacu oleh pronomina persona –mu ‘-mu’ pada kutipan di atas dapat ditemukan dalam lagu tersebut karena sifat acuannya yang endoforis, yaitu seseorang yang disapa dengan kata sapaan cah ayu ‘anak cantik’ (8) dan lungamu ‘pergimu’ (12).
Aku dalam lagu tersebut sekurang-kurangnya mempunyai tiga tafsiran. Tafsiran pertama, aku adalah pengarang lagu. Tafsiran kedua, aku adalah penyanyi tertentu yang menyanyikan lagu itu untuk mempopulerkannya. Tafsiran ketiga, aku adalah siapapun yang melantunkan lagu atau sekedar membaca lirik lagu tersebut.
Seorang pencipta lagu yang mengarang sebuah lagu tentu dilatar belakangi oleh faktor-faktor yang mendorong diciptakannya lagu tersebut. Dengan demikian, ada lagu yang menggambarkan suatu keadaan tertentu yang dialami oleh seseorang, peristiwa tertentu yang sudah terjadi, penggambaran realitas sosial, proses atau aktivitas yang sedang berlangsung, dan penggambaran sebuah cinta dan kerinduan yang mendalam.
Selain aku ‘aku’, penafsiran personal yang kedua adalah penafsiran terlibat wacana yang diungkapkan dengan –mu ‘-mu’, atau yang mengacu pada seseorang yang disapa dengan sapaan cah ayu ‘anak cantik’ adalah kata sapaan yang digunakan untuk menyapa seorang perempuan. Dengan demikian, pelibat wacana pada kedua lagu tersebut adalah seorang perempuan yang sangat diharapkan dan dirindukan kehadirannya oleh seorang kekasih atau aku yang tidak lain adalah pencipta lagu itu sendiri.
2.    Prinsip Penafsiran Lokasional
Prinsip penafsiran lokasional berkaitan dengan penafsiran tempat atau lokasi terjadinya suatu situasi (peristiwa, keadaan, dan proses) dalam memahami wacana. Di dalam lagu “Layang Kangen”dan “Sewu Kutha” tidak ditemukan pronomina demonstratif yang mengacu pada tempat terjadinya suatu situasi sehingga sulit ditafsirkan lokasinya.
Pronomina demonstratif pada kata sewu kutha ‘seribu kota’ (pada baris 1). Tempat kutha ‘kota’ merupakan simbol multidimensi betapa tingginya harapan dan kerinduan seorang kekasih yang berada pada lokasi tertentu sedang menunggu kabar dan mencari kekasih yang lama tidak berjumpa.
3.    Prinsip Penafsiran Temporal
Prinsip penafsiran temporal berkaitan dengan pemahaman mengenai waktu. Berdasarkan konteksnya kita dapat menafsirkan kapan atau berapa lam waktu terjadinya situasi (peristiwa, keadaan, proses). Pada baris ke-1 lirik lagu “Layang Kangen” terdapat pronomina demonstratif waktu wingi kuwi ‘kemarin itu’, pada baris ke-5 dan 6 lirik lagu “Sewu Kutha” juga terdapat pronomina demonstratif waktu pirang taun ‘berapa tahun’ (5), seprene ‘sampai sekarang’ (6) seperti tampak pada kutipan berikut:
(1)     Layangmu tak tampa wingi kuwi (LK)
‘Suratmu kubaca kemarin itu’
(5)      Pirang taun anggonku nggoleki (SK)
‘Berapa tahun aku mencari’
(6)     Seprene durung bisa nemoni  (SK)
‘Sampai saat ini belum bisa menemui’
Pronomina demonstratif waktu wingi kuwi ‘kemarin itu’ pada lirik lagu “Layang Kangen” acuannya bersifat eksoforis, acuan berada di luar teks. Konteks yang dipakai sebagai dasar untuk menafsirkan acuan waktu tersebut adalah waktu diciptakannya lagu itu. Dengan kata lain pada waktu lagu itu dikarang, lirik lagu tersebut mengacu pada waktu lampau.
Pada pronomina demonstratif waktu pirang taun (5), seprene (6) pada lirik lagu “Sewu Kutha” berkaitan dengan prinsip penafsiran temporal. Hitungan jumlah waktu dalam kata pirang taun (5), seprene (6) merupakan konteks yang menunjukkan lama waktu terjadinya peristiwa.

4.2 Analisis Tekstual Lirik Lagu Campursari “Layang Kangen” dan “Sewu Kutha”
1. Analisis Aspek Gramatikal
            Peranti wacana yang dimanfaatkan oleh Didi Kempot pada lagu “Layang Kangen” dan “Sewu Kutha” adalah pengacuan (referensi), khususnya referensi persona pertama dan kedua, penyulihan (substitusi), dan pelesapan (elipsis).
a.    Pengacuan (Referensi)
Pengacuan (referensi) yang dibahas adalah pengacuan persona dan demonstratif. Secara tersurat, pengacuan komparatif tidak terdapat pada lirik kedua lagu tersebut.
1.    Pengacuan Persona
Pada lirik lagu “Layang Kangen” dan “Sewu Kutha” dapat ditemukan dua pronomina persona, yaitu pronomina persona pertama tunggal yang terdiri atas:
(a) pronomina pertama tunggal bentuk bebas aku ‘aku’ dan tak ‘aku’ seperti pada kutipan berikut.
(2) Wis tak waca apa karepe atimu                 ‘Sudah kubaca apa maksud hatimu’ (LK)
(13) Percaya aku, kuwatna atimu                   ‘Percaya aku, kuatkan hatimu’ (LK)
(14) Aku pengen ketemu                                 ‘Aku ingin bertemu’ (SK)
(b) pronomina persona pertama tunggal bentuk terikat lekat kanan-ku ‘-ku’ seperti tampak pada kutipan berikut.
 (4) Ra krasa netes eluh neng pipiku               ‘Tidak terasa menetes air mata di pipiku’ (LK)
(c) pronomina persona kedua tunggal bentuk terikat lekat kanan-mu ‘-mu’ seperti tampak pada kutipan berikut.
 (1) Layangmu tak tampa wingi kuwi             ‘Suratmu ku terima kemarin itu’ (LK)
 (2) Wis tak waca apa karepe atimu               ‘Sudah ku baca apa maksud hatimu’ (LK)
 (3) Trenyuh ati iki maca tulisanmu                ‘Terharu hati ini membaca tulisanmu’ (LK)
 (4) Lungamu neng endi                                 ‘Pergimu di mana’ (SK)
 (7) Wis tak coba nglalekake, jenengmu saka atiku ‘Sudah kucoba melupakan, namamu dari
                                                                                   hatiku’ (SK)
Pronomina persona kedua tunggal bentuk terikat lekat kanan-mu ‘-mu’ pada kata layangmu ‘suratmu’, tulisanmu ‘’tulisanmu, lungamu ‘pergimu’, mengacu secara endoforis karena unsur yang diacu berada di dalam teks. Sementara pada kata atimu ‘hatimu, dan jenengmu ‘namamu’ mengacu secara eksoforis karena unsur yang diacu berada di luar lirik teks lagu.
2.    Pengacuan Demonstratif
Pengacuan demonstratif meliputi pengacuan demonstratif waktu (temporal) dan pengacuan demonstratif tempat (lokasional).
a)      Pengacuan demonstratif waktu (temporal) terdapat pada lirik lagu “Layang Kangen” yang diungkapkan melalui frasa wingi kuwi ‘kemarin itu’. Pada lirik lagu “Sewu Kutha” juga terdapat pengacuan demonstratif waktu pirang taun ‘berapa tahun’, seprene ‘sampai sekarang’ seperti tampak pada kutipan berikut:
(1)   Layangmu tak tampa wingi kuwi
‘Suratmu kubaca kemarin itu’
(5)   Pirang taun anggonku nggoleki
‘Berapa tahun aku mencari’
(6)   Seprene durung bisa nemoni
‘Sampai saat ini belum bisa menemui’
b)      Pengacuan demonstratif tempat (lokasional) terdapat pada lirik lagu “Sewu Kutha” yang diungkapkan melalui frasa sewu kutha ‘seribu kota’ (pada baris 1).

b.   Penyulihan (Substitusi)
Penyulihan (substitusi) merupakan salah satu jenis kohesi gramatikal yang berupa penggantian satuan lingual tertentu dengan satuan lingual yang lain dalam wacana untuk memperoleh unsur pembeda. Pada lirik lagu “Sewu Kutha” terdapat penyulihan satuan lingual sliramu ‘kamu’ dengan kowe ‘kamu’. Sedangkan pada lirik “Layang Kangen” terdapat penyulihan kata atimu ‘hatimu’ dengan cah ayu ‘anak cantik’ seperti tampak pada kutipan berikut.
(8)   Saktenane aku ora ngapusi isih tresna sliramu (SK)
‘Sesungguhnya aku tidak berbohong masih mencintai kamu’
(9)   Umpamane kowe uwis mulya, lila aku lila (SK)
‘Seandainya kamu sudah bahagia, rela aku rela’
      (13) Percaya aku kuwatna atimu
‘Percaya aku kuwatkan hatimu’
(14)    Cah ayu entenana tekaku
‘Anak cantik tunggulah kedatanganku’

c.    Pelesapan (Elipsis)
Pelesapan (elipsis) yaitu penghilangan satuan lingual tertentu. Pada lirik lagu “Layang Kangen” ditentukan pelesapan pada kutipan berikut.
Layang Kangen
(1a)Trenyuh ati iki, Ø maca tulisanmu      ‘Terharu hati ini, Ø membaca tulisanmu’
(1b)Trenyuh ati iki, aku maca tulisanmu   ‘Terharu hati ini, aku membaca tulisanmu’
Sewu Kutha
(2a)Sewu ati tak takoni Ø                                ‘Seribu hati ku tanyai Ø
(2b)Sewu ati tak takoni kowe                          ‘Seribu hati ku tanyai kamu’
(3a)Nanging kabeh padha ra ngerteni Ø        ‘Namun semua tidak ada yang tahu Ø
(3b)Nanging kabeh padha ra ngerteni kowe  ‘Namun semua tidak ada yang tahu kamu’
(5a)Pirang taun anggonku nggoleki Ø            ‘Berapa tahun aku mencari Ø
(5b)Pirang taun anggonku nggoleki kowe      ‘Berapa tahun aku mencari kamu’
(6a)Seprene Ø durung bisa nemoni  Ø           ‘Sampai saat ini Ø belum bisa menemui Ø
(6b)Seprene aku durung bisa nemoni kowe ‘Sampai saat ini aku belum bisa menemui kamu’         
(7a)Wis tak coba nglalekake Ø                        ‘Sudah kucoba melupakan Ø
(7b)Wis tak coba nglalekake kowe                  ‘Sudah kucoba melupakan kamu’
(8a)Saktenane aku ora ngapusi, Ø isih tresna sliramu ‘Sesungguhnya aku tidak berbohong,
                                                                                        masih mencintai kamu’
(8b)Saktenane aku ora ngapusi, aku isih tresna sliramu ‘Sesungguhnya aku tidak
                                                                                           berbohong, aku masih mencintai
                                                                                           kamu’
(15a) Aku pengen ketemu Ø                            ‘Aku ingin bertemu Ø
(15b) Aku pengen ketemu kowe                      ‘Aku ingin bertemu kamu’

Tampak pada kutipan-kutipan di atas terjadi pelesapan berupa kata aku dan kowe. Kedua pelesapan itu berfungsi sebagai subyek atau pelaku tindakan pada kutipan tuturan tersebut. Hal ini menunjukkan bahwa dengan terjadinya peristiwa pelesapan maka kutipan tuturan itubmenjadi lebih efektif, efisien, wacananya menjadi kohesif dan praktis dalam komunikasi.
2.    Analisis Aspek Leksikal
Aspek leksikal adalah hubungan antara unsur dalam wacana secara semantis. Dalam analisis aspek leksikal untuk menandai koherensi pada lagu “Layang Kangen” dan “Sewu Kutha” terdapat tiga macam penanda, yaitu repetisi (perulangan), dan sinonimi (padan kata).
a.    Repetisi (Perulangan)
            Repetisi (perulangan) adalah perulangan satuan lingual (bunyi, suku kata, kata, atau bagian kalimat) yang dianggap penting untuk memberi tekanan dalam sebuah konteks yang sesuai (Sumarlam, 2003: 34).

1.    Repetisi Epizeuksis
            Repetisi epizeuksis adalah perulangan kata yang dipentingkan beberapa kali secara berturut-turut. Dalam lirik lagu “Sewu Kutha” terdapat repetisi epizeuksis, berikut ini kutipannya.
(1)   Sewu Kutha uwis tak liwati
      ‘Seribu kota sudah aku lewati’
(2)   Sewu ati tak takoni
      ‘Seribu hati ku tanyai’
2.    Repetisi Utuh
            Repetisi utuh adalah perulangan satuan lingual yang berupa kalimat. Dalam lirik lagu “Layang Kangen” terdapat repetisi utuh yakni tampak pada baris (8) dan (14) berikut ini.
(7) Wis kepiye maneh marga kahananku             ‘Sudah bagaimana lagi karena keadaanku’
(8) Cah ayu entenana tekaku                             ‘Anak cantik tunggulah kedatanganku’
(13) Percaya aku kuwatna atimu                         ‘Percaya aku kuatkan hatimu’
(14) Cah ayu entenana tekaku                           ‘Anak cantik tunggulah kedatanganku’
            Lirik lagu “Sewu Kutha” terdapat repetisi utuh yakni tampak pada baris (13) dan (15) berikut ini.
(12) Senajan wektu mung sedhela                         ‘Meskipun waktu hanya sebentar’
(13) Tak nggo tamba kangen jroning dhadha    ‘Ku pakai obat rindu dalam dada’
(14) Senajan sakedheping mata                             ‘Meskipun satu kedipan mata’
(15) Tak nggo tamba kangen jroning dhadha     ‘Ku pakai obat rindu dalam dada’

b.    Sinonimi (Padan kata)
Sinonimi (padan kata) adalah salah satu aspek leksikal untuk mendukung kepaduan wacana. Sinonimi berfungsi untuk menjalin hubungan makna yang sepadan antara satuan lingual tertentu dengan satuan lingual lain dalam wacana.  Dalam lirik lagu “Layang Kangen” terdapat sinonimi morfem (bebas) dengan morfem terikat. Seperti pada kutipan berikut.
(5)   Umpama tanganku dadi suwiwi         (LK)
‘Seandainya tanganku menjadi sayap’
(6)   Iki uga aku enggal bali                       (LK)
‘Saat ini juga aku cepat pulang’
(15)    Wis tak coba nglalekake, jenengmu saka atiku         (SK)
‘Sudah kucoba melupakan, namamu dari hatiku
(16)    Saktenane aku ora ngapusi, isih tresna sliramu       (SK)
‘Sesungguhnya aku tidak berbohong, masih mencintai kamu’
(18)    Ya mung siji dadi panyuwunku        (SK)
‘Ya hanya satu menjadi permintaanku’
(19)    Aku pengen ketemu                          (SK)
‘Aku ingin bertemu’
Pada kutipan di atas, morfem bebas aku ‘aku’ bersinonimi dengan morfem terikat kanan-ku.

























BAB V
PENUTUP

5.1 Simpulan
Berdasarkan hasil penelitian mengenai kajian kontekstual dan tekstual dalam lirik lagu “Layang Kangen” dan “Sewu Kutha” dapat disimpulkan sebagai berikut:
1.      Seorang pencipta lagu yang mengarang sebuah lagu tentu dilatar belakangi oleh faktor-faktor yang mendorong diciptakannya lagu tersebut. Dengan demikian, ada lagu yang menggambarkan suatu keadaan tertentu yang dialami oleh seseorang, peristiwa tertentu yang sudah terjadi, penggambaran realitas sosial, proses atau aktivitas yang sedang berlangsung, dan penggambaran sebuah cinta dan kerinduan yang mendalam.
2.      Secara kontekstual, pelibat wacana dalam lirik lagu “Layang Kangen” dan “Sewu Kutha” dapat dipahami melalui prinsip penafsiran personal, lokasional, dan temporal berdasarkan konteks situasi, sosial dan kultural. Berdasarkan prinsip penafsiran personal, terdapat dua pelibat wacana dalam lirik lagu tersebut yaitu aku (pengarang), cah ayu dan kowe (seorang perempuan) yang sangat diharapkan dan dirindukan kehadirannya oleh seorang kekasih atau aku yaitu pencipta lagu itu sendiri.
3.      Secara tekstual, analisis gramatikal yang terdapat pada lagu “Layang Kangen” dan “Sewu Kutha” adalah pengacuan (referensi), khususnya referensi persona pertama dan kedua, penyulihan (substitusi), dan pelesapan (elipsis). Sedangkan analisis aspek leksikal untuk menandai koherensi pada lagu “Layang Kangen” dan “Sewu Kutha” terdapat tiga macam penanda, yaitu repetisi (perulangan), dan sinonimi (padan kata).

5.2 Saran
Saran yang diberikan dalam penelitian ini adalah perlu dilakukan penelitian sejenis sehingga aspek-aspek yang membangun wacana lirik lagu dapat diketahui dengan jelas. Selain itu, perlu dilakukan penelitian wacana lain seperti prosa, puisi, drama, iklan, gambar, dan sebagainya dengan maksud  memperkaya khasanah penelitian wacana.





DAFTAR PUSTAKA

Henry Guntur Tarigan. 2009. Pengajaran Wacana. Bandung: Angkasa.
Herman J Waluyo. 2008. Pengkajian dan Apresiasi Puisi. Salatiga: Widya Sari.
Muhammad Rohmadi. 2011. Analisis Wacana Pragmatik Kajian Teori dan Analisis. Surakarta: Yuma Pustaka.
Rachmat Djoko Pradopo. 1995. Pengkajian Puisi. Yogyakarta: UGM Press.
Sumarlam. 2008. Analisis Wacana: Teori dan Praktik. Surakarta: Pustaka Caraka.
_________. (Ed). 2008. Analisis Wacana: Iklan, Lagu, Puisi, Cerpen, Novel, Drama.  Surakarta: BukuKatta.




























LAMPIRAN

Layang Kangen
Ciptaan Didi Kempot

(1)   Layangmu tak tampa wingi kuwi
‘Suratmu ku terima kemarin itu’
(2)   Wis tak waca apa karepe atimu
‘Sudah ku baca apa maksud hatimu’
(3)   Trenyuh ati iki, maca tulisanmu
‘Terharu hati ini, membaca tulisanmu’
(4)   Ra krasa netes eluh neng pipiku
‘Tidak terasa menetes air mata di pipiku’
(5)   Umpama tanganku dadi suwiwi
‘Seandainya tanganku menjadi sayap’
(6)   Iki uga aku enggal bali
‘Saat ini juga aku cepat pulang’
(7)   Wis kepiye maneh marga kahananku
‘Sudah bagaimana lagi karena keadaanku’
(8)   Cah ayu entenana tekaku
‘Anak cantik tunggulah kedatanganku’
(9)   Ra maidu sapa wong sing ora kangen
‘Tidak munafik siapa orang yang tidak kangen’
(10)    Adoh bojo pengen turu angel merem
Jauh istri ingin tidur susah memejam mata’
(11)    Ra maidu sapa wong sing ora trenyuh
‘Tidak munafik siapa orang yang tidak terharu’
(12)    Adoh bojo sawetara pengen weruh
‘Jauh istri sebentar ingin tahu’
(13)    Percaya aku kuwatna atimu
‘Percaya aku kuwatkan hatimu’
(14)    Cah ayu entenana tekaku
‘Anak cantik tunggulah kedatanganku’


Sewu Kutha
Ciptaan Didi Kempot

(1)   Sewu kutha uwis tak liwati
‘Seribu kota sudah aku lewati’
(2)   Sewu ati tak takoni
‘Seribu hati ku tanyai’
(3)   Nanging kabeh padha ra ngerteni
‘Namun semua tidak ada yang tahu’
(4)   Lungamu neng endi
‘Pergimu kemana’
(5)   Pirang taun anggonku nggoleki
‘Berapa tahun aku mencari’
(6)   Seprene durung bisa nemoni
‘Sampai saat ini belum bisa menemui’
(7)   Wis tak coba nglalekake, jenengmu saka atiku
‘Sudah kucoba melupakan, namamu dari hatiku
(8)   Saktenane aku ora ngapusi, isih tresna sliramu
‘Sesungguhnya aku tidak berbohong masih mencintai kamu’
(9)   Umpamane kowe uwis mulya, lila aku lila
‘Seandainya kamu sudah bahagia, rela aku rela’
(10)    Ya mung siji dadi panyuwunku
‘Ya hanya satu menjadi permintaanku’
(11)    Aku pengen ketemu
‘Aku ingin bertemu’
(12)    Senajan wektu mung sedhela
‘Meskipun waktu hanya sebentar’
(13)    Tak nggo tamba kangen jroning dhadha
‘Ku pakai obat rindu dalam dada’
(14)    Senajan sakedheping mata
‘Meskipun satu kedipan mata’
(15)    Tak nggo tamba kangen jroning dhadha
‘Ku pakai obat rindu dalam dada’

Tidak ada komentar:

Posting Komentar