BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang Masalah
Karya
seni merupakan salah satu bentuk hasil ciptaan manusia yang bersumber dari akal
pikiran dan perasaan. Sebuah karya seni lahir karena adanya keinginan pengarang
untuk mengkomunikasikan rasa serta pikirannya kepada orang lain. Sebalikya,
seorang pengarang tentu tidak akan berkreasi kalau pikirannya dalam keadaan
kosong. Ia selalu bertumpu pada sesuatu yang sebelumnya sudah ada. Sentuhan
penggambaran suasana dan keadaan yang diungkapkan seorang pengarang tidak bisa
lepas dari lingkungan sosial dan pengalaman dirinya. Pengarang bertindak
sebagai penutur ingin mengekspresikan gagasan-gagasannya kepada masyarakat.
Masyarakat
dapat menikmati karya seni melalui lagu. Berdasarkan isinya, lagu bisa dikategorikan dalam lagu
himne, lagu perjuangan, lagu religi, dan lagu parody. Berdasarkan bentuknya,
lagu dapat digolongkan dalam lagu klasik, campursari, keroncong, dangdut, jaz,
dan popular.Lagu memiliki bermacam-macam fungsi, salah satu fungsinya adalah
sebagai sarana hiburan. Lagu mempunyai kekuatan untuk
mempengaruhi suasana batin seseorang yang sedang dirundung kegembiraan dan
kesedihan.
Campursari merupakan lagu yang
bersyair bahasa Jawa dengan menggunakan musik popular pada umumnya. Istilah
campursari berasal dari kata campur
‘gabung’ dan sari ‘tepung sari/bakal buah’. Secara harfiah campursari dapat
diartikan sebagai penggabungan beberapa unsur yang berbeda untuk membuahkan
sesuatu yang baru. Pada mulanya istilah ini digunakan sebagai nama keasenian
gabungan keroncong lan kerawitan ‘keroncong dan musik tradisional Jawa
(gamelan)’ (Sudaryanto, 2001: 137). Jadi, bisa disintesiskan bahwa campursari merupakan aliran
musik perpaduan tradisional Jawa dengan musik modern. Perpaduan dua hal inilah
yang kemudian membuat campursari menjadi menarik untuk dinikmati.
Wacana
lagu campursari “Layang Kangen” dan “Sewu Kutha” merupakan wacana lagu yang
ditulis dalam bahasa Jawa yang dapat disamakan dengan puisi Jawa modern atau
geguritan. Lagu ini berisi tentang penantian dan pencarian seorang yang sangat
merindukan kekasihnya. Lagu-lagu tersebut biasa dinyanyikan dalam pesta-pesta
pernikahan. Lagu “Layang Kangen” dan “Sewu Kutha” adalah lagu ciptaan Didi
Kempot yang memiliki konteks situasi maupun konteks kultural masa kini yang
sangat baik untuk dikaji lebih mendalam.
Berdasarkan
uraian di atas, perlu dilakukan penelitan analisis kontekstual dan tekstual dalam lagu campursari “Layang Kangen” dan
“Sewu Kutha”.
B. Permasalahan
Berdasarkan
latar belakang di atas, permasalahan dalam penelitian ini adalah sebagai
berikut.
1.
Bagaimana
tinjauan kontekstual dalam wacana lagu campursari “Layang Kangen” dan
“Sewu Kutha”?
2.
Bagaimana
tinjauan tekstual dalam wacana lagu campursari “Layang Kangen” dan
“Sewu Kutha”?
C. Tujuan Penelitian
Tujuan
yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah sebagai berikut.
1.
Menganalisis
tinjauan kontekstual dalam wacana lagu campursari “Layang Kangen” dan
“Sewu Kutha”?
2.
Bagaimana
tinjauan tekstual dalam wacana lagu campursari “Layang Kangen” dan
“Sewu Kutha”?
D. Manfat Penelitian
Penelitian
ini bermanfaat baik secara teoretis maupun praktis.
a. Manfaat teoretis
Hasil
penelitian diharapkan dapat memperkaya khasanah wacana lagu campursari terutama tinjauan kontekstual dan tekstual.
b. Manfaat Praktis
1.
Hasil
penelitian diharapkan dapat menjadi acuan dan pertimbangan oleh peneliti lain
dalam melakukan penelitian sejenis.
2.
Hasil
penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi pembaca, penyanyi dan penggemar
lagu campursari.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Kajian
Pustaka
Beberapa
penelitian yang mengambil objek wacana dalam lagu campursari dapat dijadikan sebagai kajian pustaka dalam penelitian ini antara
lain: penelitian yang pernah dilakukan Djoko Wijono (2005) dan Poniman (2005).
Djoko Wijono (2005) melakukan penelitian yang
berjudul “Analisis
Wacana Lirik Lagu ‘Stasiun Balapan” dan “Tirtanadi’ Tinjauan Intertekstual,
Aspek Gramatikal, dan Leksikal”.
Masalah yang dikaji dalam penelitian tersebut mengenai tinjauan intertekstual, gramatikal,
dan leksikal. Aspek gramatikal dalam dua lagu tersebut ditemukan pengacuan
persona, pengacuan demonstratif, pengacuan komparatif, elipsis, dan konjungsi.
Aspek leksikal lagu “Stasiun Balapan”
terdapat repetisi, sinonimi, dan ekuivalensi. Sedangkan aspek leksikal lagu “Tirtanadi” terdapat repetisi, sinonimi,
dan antonimi.
Poniman (2005) melakukan penelitian yang berjudul“Analisis Wacana Syair Lagu Kontroversial
“Mendem Wedokan” Ciptaan Dr. Ganang Trikora W, SH”. Aspek tekstual dalam lagu tersebut ditemukasn aspek bunyi asonansi ’persamaan
bunyi vokal’, dan aliterasi ‘persamaan bunyi konsonan’. Persajakan yang dominan
pada syair lagu “Mendem Wedokan” adalah
asonansi ‘persamaan bunyi vokal’. Pada aspek gramatikal lagu ini terdapat
pengacuan persona, pengacuan demonstratif yakni penggantian “substitusi”,
pelesapan “elipsis”, perangkaian “ konjungsi”. Aspek leksikal lagu ini
ditemukan repetisi, sinonimi, antonimi, kolokasi, dan ekuivalensi.
Dari
kedua penelitian di atas dapat diketahui bahwa
penelitian wacana
lirik lagu campursari sudah
pernah dilakukan. Penelitian yang akan dilakukan ini bersifat melanjutkan penelitian-penelitian yang
ada dan diharapkan dapat melengkapi hasil
penelitian sebelumnya.
2.2 Landasan
teoretis
Konsep-konsep
yang digunakan dalam penelitian ini adalah definisi wacana, lirik lagu, kontekstual, dan tekstual.
2.2.1
Wacana
Dalam
buku Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia (Alwi dkk Dekdikbud, 1993: 43) dikatakan bahwa wacana adalah rentetan
kalimat yang bertautan sehingga terbentuklah makna yang serasi diantara
kalimat-kalimat tersebut.
Bertalian erat dengan wacana, Sumarlam
(2003: 15) menyatakan bahwa wacana adalah satuan bahasa terlengkap yang
dinyatakan secara lisan seperti pidato, ceramah, khotbah, dan dialog, atau
secara tertulis seperti cerpen, novel, buku, surat, dan dokumen tertulis, yang
dilihat dari struktur lahirnya (dari segi bentuk) bersifat kohesif, saling
terkait dan dari struktur batinnya (dari segi makna) bersifat koheren, terpadu.
Mulyana
(2005: 1) memberikan penjelasan bahwa wacana merupakan unsur kebahasaan yang relatif
paling kompleks dan paling lengkap. Satuan pendukung kebahasaanya meliputi
fonem, morfem, kata, frasa, klausa, kalimat, paragraf, hingga karangan utuh.
Secara singkat wacana adalah satuan bahasa terlengkap yang dibentuk dari
rentetan kalimat yang kontiunitas, kohesif, dan koheren sesuai dengan kontekstual
situasi. Dengan kata lain wacana adalah satuan-satuan tuturan yang merupakan
realisasi bahasa dapat diwujudkan sekurang-kurangnya satu paragraf, paragraf
dapat diwujudkan dalam satu kata atau lebih. Realisasi wacana dapat berupa
karangan yang utuh yakni novel, buku, seri ensiklopedia dan realisasi wacana
lisan adalah tuturan.
Tarigan
(2009: 26) menyatakan wacana adalah satuan bahasa
yang paling lengkap, lebih tinggi dari klausa dan kalimat, memiliki kohesi dan
koherensi yang baik, mempunyai awal dan akhir yang jelas, berkesinambungan, dan
dapat disampaikan secara lisan ataupun tertulis. Dari pengertian tersebut maka
dalam menyusun wacana harus selalu mempertimbangkan unsur-unsurnya sehingga
terbentuk menjadi wacana yang utuh.
Dari
beberapa pernyataan di atas dapat diketahui
bahwa wacana merupakan satuan bahasa terlengkap yang dinyatakan secara lisan ataupun tulis dan memiliki struktur lahir (dari
segi bentuk) bersifat kohesif, saling terkait dan dari struktur batinnya (dari
segi makna) bersifat koheren, terpadu.
2.2.2
Lirik Lagu
Pada prinsipnya terdapat
persamaan antara syair lagu dengan puisi. Oleh karena itu, teori yang akan
digunakan untuk mengupas syair, sama dengan yang digunakan dalam puisi.
Definisi puisi menurut Altenbernd dalam
(Rachmat Djoko Pradopo, 1995: 5-6) adalah pendramaan pengalaman yang bersifat
penafsiran (menafsirkan) dalam bahasa berirama (bermetrum) (as the interpretive dramatization of
experience in metrical language).
Shahnon Ahmad dalam (Rachmat Djoko Pradopo,
1995: 7) menyebutkan garis besar sebuah puisi terdiri dari emosi, imajinasi,
pemikiran, ide, nada, irama, kesan pancaindera, susunan kata, kata-kata kiasan,
kepadatan, dan perasaan yang bercampur-baur.
Menurut Rachmat Djoko Pradopo (1995:
7) puisi mengekspresikan pemikiran yang membangkitkan perasaan. Juga merangsang
imajinasi pancaindera dalam susunan yang berirama.
Herman J. Waluyo ( 2008: 77)
menyatakan untuk memahami puisi, ada dua hal yang harus dimengerti dan dipahami
pembaca, yakni struktur fisik dan struktur batin. Struktur fisik berkenaan
dengan faktor kebahasaan. Struktur fisik puisi berkaitan dengan diksi,
pengimajian, kata konkret, bahasa figuratif atau majas, versifikasi, dan tata
wajah puisi atau tipografi. Struktur batin puisi terdiri dari: tema, perasaan
atau feeling, nada dan suasana, serta
amanat atau pesan. Berikut ini akan dibahas tiap struktur pembentuk puisi,baik
struktur fisik maupun struktur batin.
1.
Struktur fisik
a.
Diksi (pemilihan kata)
1. Hendaknya disadari bahwa kata-kata
dalam puisi bersifat konotatif, artinya memiliki kemungkinan makna lebih dari
satu. Kata-katanya juga dipilih yang puitis, yaitu memiliki efek keindahan dan
berbeda dari kata-kata yang dipakai dalam kehidupan sehari-hari.
2. Begitu pentingnya kata-kata dalam
puisi, sehingga penyair berhati-hati dalam menggunakan. Berikut ini beberapa
hal yang dapat dilakukan untuk memahami puisi yang berkaitan dengan diksi.
3. Perbendaharaan kata
4. Perbendaharaan kata penyair sangat
penting sebagai kekuatan ekspresi sekaligus ciri khas penyair. Dalam memilih
kata-kata, penyair mempertimbangkan makna yang akan disampaikan dan tingkat
perasaan serta suasana batinnya. Selain itu, juga dilatarbelakangi oleh faktor sosial
budaya penyair. Perbedaan asal, suku, agama, pendidikan, jenis kelamin akan
menghasilkan diksi yang berbeda pula.
5. Urutan kata
6. Dalam puisi, urutan kata bersifat
tetap. Artinya, urutan kata itu tidak bisa dipindahtempatkan. Tiap penyair atau
penulis memiliki ciri khusus dalam meletakkan urutan kata-kata yang digunakan dalam
puisinya.
7. Daya sugesti kata-kata
8. Dalam memilih kata-kata, penyair
mempertimbangkan daya sugesti yang dimiliki kata-kata tersebut. Sugesti itu
ditimbulkan oleh makna kata yang dipandang sangat tepat untuk mewakili perasaan
penyair. Karena ketepatan pilihan dan penempatan kata-kata yang digunakan
penyair, mampu memberikan sugesti kepada pembaca untuk ikut sedih, terharu,
bersemangat, marah dan perasaan lainnya.
b.
Pengimajian
Pengimajian ditandai dengan
penggunaan kata-kata konkret dan khas. Adapun imaji yang biasanya dimunculkan
yakni imaji visual, imaji auditif, imaji taktil. Ketiganya digambarkan atas
bayangan konkret apa yang dapat kita hayati secara nyata. Pengimajian juga
berarti mengingatkan kembali pengalaman yang pernah terjadi. Pengimajian
disebut juga pencitraan.
Pengimajian dapat dibatasi dengan
pengertian kata atau susunan kata yang dapat mengungkapkan pengalaman sensoris,
seperti penglihatan, pendengaran, dan perasaan (Herman J Waluyo, 2008: 91).
Effendi dalam (Herman J Waluyo, 2008:
93) menyatakan pengimajian dalam sajak dapat dijelaskan sebagai usaha penyair
untuk menciptakan atau menggugah timbulnya imaji dalam diri pembacanya.
Diharapkan pembaca tergugah untuk menggunakan mata untuk melihat benda-benda,
warna. Dengan telinga dapat mendengar bunyi-bunyian dan dengan perasaan dapat
menyentuh kesejukan dan keindahan benda dan warna.
c.
kata konkret
Untuk membangkitkan imaji atau daya
baying pembaca, maka kata-kata yang digunakan harus konkret. Maksudnya,
kata-kata itu dapat merujuk pada makna kata secara menyeluruh. Kata yang
konkret berkaitan erat dengan penggunaan kiasan dan lambang. Semakin pandai
penyair mengkonkretkan kata, maka pembaca seolah-olah melihat, mendengar, atau
merasakan apa yang dilukiskan oleh penyair.
d.
Bahasa figuratif atau majas
Bahasa figuratif merupakan bahasa
yang memiliki makna kias atau bukan makna sebenarnya. Bahasa figuratif
digunakan penyair untuk mengatakan sesuatu dengan cara yang tidak biasa, yakni
tidak langsung mengungkapkan maknanya. Bahasa figuratif dipandang lebih efektif
untuk menyatakan maksud penyair karena: (1) bahasa figurative mampu
menghasilkan kesenangan imajinatif, (2) bahasa figurative adalah cara untuk
menghasilkan imajinasi tambahan dalam puisi, sehingga yang abstrak jadi konkret
dan menjadikan puisi lebih nikmat untuk dibaca, (3) bahasa figurative merupakan
cara menambah intensitas perasaan penyair untuk puisinya dan menyampaikan sikap
penyair, (4) bahasa figuratif merupakan cara untuk mengkonsentrasikan makna
yang hendak disampaikan (Perrine dalam Herman J Waluyo, 2008: 96-97).
e.
Versifikasi (rima dan ritma)
Rima merupakan pengulangan bunyi
dalam puisi untuk membentuk musikalitas. Dengan pengulangan bunyi ini, puisi
menjadi merdu jika dibaca. Untuk mengulang bunyi ini, pemilihan bunyi-bunyi
mendukung perasaan dalam suasana puisi. Ritma berhubungan erat dengan bunyi dan
juga pengulangan bunyi, kata, frasa, dan kalimat. Ritma juga dapat dibayangkan
seperti tembang mocopat dalam tembang Jawa. Ritma berasal dari bahasa Yunani yang
berarti gerakan-gerakan air yang teratur, terus-menerus, dan tidak putus-putus.
f.
Tata wajah puisi atau tipografi
Tipografi lebih kepada bentuk puisi itu sendiri. Bentuk
puisi yang nampak secara fisik. Bagaimana penulis menyusun dan menata kata demi
kata yang digunakan, sehingga membantu pembaca dalam memahami makna puisi.
Tipografi merupakan pembeda yang penting antara puisi dengan prosa dan drama.
Puisi konvensional tidak memiliki tipografi yang rumit. Umum saja terdiri dari
beberapa bait, tiap bait terdiri dari beberapa baris atau larik. Sementara
dalam puisi inkonvensional memang sering dijumpai bentuk puisi yang sedikit
berbeda, terutama pada puisi-puisi Sutardji Calzoum Bachri.
2.
Struktur batin
Struktur ini mengungkapkan apa yang hendak
dikemukakan oleh penyair dengan perasaan dan suasana jiwanya.
a.
Tema (Sence)
Tema merupakan gagasan pokok atau
subject-master yang dikemukakan oleh penyair yang menjadi landasan utama
penulisannya. Tema puisi harus dihubungkan dengan penyairnya dengan
konsep-konsep yang terimajinasikan. Oleh karena itu, tema bersifat khusus
(penyair), tetapi objektif (bagi semua penafsir), dan lugas (tidak
dibuat-buat). Tema-tema dalam puisi biasanya ketuhanan, kemanusiaan, patriotism
atau kebangsaan, kedaulatan rakyat, dan keadilan sosial.
b.
Perasaan (Feeling)
Dalam menciptakan puisi, suasana
perasaan penyair ikut diekspresikan dan harus dapat dihayati oleh pembaca.
Untuk mengungkapkan tema yang sama, tiap penyair memiliki perbedaan dalam
mengungkapkannya. Oleh karena itu, meskipun temanya sama, tetapi puisi yang
dihasilkan akan berbeda.
c.
Nada dan Suasana (Intention)
Dalam menulis puisi, penyair
mempunyai sikap tertentu terhadap pembaca. Sikap itu bisa berupa menggurui,
menasihati, mengejek, menyindir, atau bersikap lugas. Jika nada merupakan sikap
penyair terhadap pembaca, maka suasana adalah keadaan jiwa pembaca setelah
membaca puisi itu atau akibat psikologis yang ditimbulkan terhadap pembaca.
d.
Amanat atau Pesan
Amanat berhubungan dengan makna karya sastra (meaning and significance). Amanat yang
hendak disampaikan oleh penyair secara sadar berada dalam pikiran penyair,
tetapi lebih banyak penyair tidak sadar akan amanat yang diberikan. Tafsiran
tentang amanat puisi mungkin dan dapat berbeda-beda. Untuk memahami amanat
puisi perlu dipahami dasar pandangan, filosofi, dan aliran yang dimuat oleh
pengarang. Ketajaman apresiasi pembaca dalam menentukan amanat penyair
ditentukan oleh pengalamannya bergulat membaca dan terlibat secara penuh dengan
puisi.
2.2.3 Kontekstual
Kontekstual bahasa disebut juga
kontekstual internal, sedangkan segala sesuatu yang melingkupi wacana, baik
kontekstual situasi maupun budaya disebut dengan kontekstual eksternal. Selain
pemahaman tentang kontekstual, tekstual juga merupakan proses yang sangat
penting dalam memahami wacana. Tekstual adalah proses yang harus dilakukan
penikmat untuk memahami maksud pembicara atau penulis. Pemahaman ini tidak bisa
dilakukan secara harfiah, melainkan harus didasari pula pemahaman makna
berdasarkan kontekstual sosial dan budaya. Pemahaman kontekstual, baik internal
maupun eksternal merupakan dasar tekstual atau pengambilan simpulan.
Pemahaman kontekstual situasi dan
budaya dalam wacana dapat dilakukan dengan berbagai prinsip penafsiran. Prinsip
yang dimaksud ialah prinsip penafsiran personal, prinsip penafsiran lokasional,
dan prinsip penafsiran temporal. Pemahaman wacana melalui berbagai prinsip
penafsiran dan analogi itu tentu saja akan dipengaruhi faktor sosial,
situasional, kultural, dan pengetahuan tentang dunia.
1.
Prinsip Penafsiran Personal
Prinsip ini berkaitan dengan siapa
sesungguhnya yang menjadi partisipan dala suatu wacana. Dalam hal ini, siapa
penutur dan siapa mitra tutur sangat menentukan makna sebuah tuturan. Segala
hal yang berkaitan orang yang berbicara, baik dari usia maupun jenis kelamin.
2.
Prinsip Penafsiran Lokasional
Prinsip ini berkenaan dengan
penafsiran tempat atau lokasi terjadinya suatu situasi, baik berupa keadaan,
peristiwa, dan proses dalam rangka memahami wacana.
3.
Prinsip Penafsiran Temporal
Prinsip penafsiran temporal
berkaitan dengan pemahaman mengenai waktu. Berdasarkan kontekstual wacana dapat
diketahui atau ditafsirkan kapan atau berapa lama waktu terjadinya suatu situasi.
Situasi dalam wacana bisa berupa peristiwa, keadaaan, maupun proses.
Sejalan dengan kontekstual wacana,
Sumarlam (2008: 72-73) menyatakan bahwa kontekstual wacana adalah aspek-aspek
internal wacana dan segala sesuatu yang secara eksternal melingkupi sebuah
wacana. Kontekstual wacana dapat dibedakan menjadi dua kelompok, yaitu kontekstual
bahasa dan kontekstual luar bahasa. Kontekstual bahasa disebut ko-teks,
sedangkan kontekstual luar bahasa disebut dengan kontekstual situasi dan kontekstual
budaya.
Muhammad Rohmadi (2011: 72-73)
menyatakan bahwa konteks memiliki peran
penting untuk mengungkap makna yang ada dalam teks.
Berdasarkan beberapa pendapat di
atas, dapat ditegaskan bahwa kontekstual merupakan bagian dari ruang lingkup
wacana yang menunjukkan situasi keadaan guna mengungkap makna yang ada di dalam
teks.
2.2.4
Tekstual
Muhammad Rohmadi (2011: 73) menyatakan
teks adalah semua bentuk bahasa, bukan hanya kata-kata yang tercetak di lembar
kertas, tetapi juga semua jenis ekspresi komunikan, ucapan, musik, gambar, efek
suara, citra, dan sebagainya. Teks media yang menunjuk pada suatu teknologi
memungkinkan untuk memproduksi wacana dalam bentuk teks. Suara, musik, dan
berbagai hal lain hasil produksi teknologi tersebut dapat disebut sebagai teks.
Sejalan dengan pemikiran tersebut
Graddol, Petter Garret, dan Allan Bell dalam (Muhammad Rohmadi, 2011: 73)
menyatakan bahwa teks dapat dipahami sebagai artefak komunikasi dan lebih jauh
adalah produk dari teknologi.
Merujuk dua pendapat di atas maka dapat
ditegaskan bahwa tekstual merupakan berbagai macam bentuk bahasa sebagai bentuk
komunikasi.
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Pendekatan Penelitian
Penelitian ini
menggunakan dua pendekatan, yaitu pendekatan teoretis dan pendekatan
metodologis. Pendekatan teoretis dalam penelitian ini menggunakan pendekatan
analisis wacana. Tujuan analisis wacana adalah untuk mengungkapkan kaidah
kebahasaan yang mengkonstruksi wacana, memproduksi wacana, memahamai wacana,
dan melambangi suatu hal dalam wacana. Tujuan analisis wacana adalah untuk
memberikan wacana (sebagai salah satu eksponen bahasa) dalam fungsinya sebagai
alat komunikasi.
Pendekatan
metodologis
penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif dan kualitatif. Pendekatan deskriptif merupakan pendekatan yang lebih menandai pada hasil penelitian
yang bersangkutan dengan bahasa dengan cara menandai cara penggunaan bahasa
tahap demi tahap, langkah demi langkah. Sedangkan pendekatan
kualitatif yang digunakan dalam penelitian ini sebagai prosedur dalam
memecahkan masalah yang sedang diteliti dengan cara mendeskripsikan atau
menggambarkan masalah. Deskripsi masalah terhadap objek penelitian yang dipilih
didasarkan pada fakta-fakta apa adanya. Pendekatan ini digunakan dengan maksud
untuk memecahkan masalah yang sedang dihadapi oleh peneliti.
3.2 Data dan
Sumber Data
Data
penelitian ini adalah lagu campursari “Layang Kangen” dan
“Sewu Kutha”. Wacana lirik lagu campursari dianalisis dari kontekstual dan
tekstual. Sumber data yang
digunakan adalah
teks lirik lagu campursari “Layang Kangen” dan “Sewu Kutha”.
3.3 Metode
Pengumpulan Data
Dalam
penelitian ini, menggunakan metode simak. Metode simak dipilih karena objek
yang diteliti berupa bahasa yang sifatnya teks. Metode simak juga harus
disertai dengan teknik catat, yang berarti peneliti mencatat data yang dinilai
tepat dalam kajian analisis kesinambungan wacana pada sebuah kartu data. Adapun
langkah-langkah yang dilakukan adalah sebagai berikut:
1. Simak
Menyimak
adalah langkah awal yang dilakukan dengan memperlihatkan dan mempelajari dengan
seksama objek yang diteliti yaitu wacana lagu campursari “Layang
Kangen” dan “Sewu Kutha”.
2. Mencatat
Pencatatan
dilakukan setelah data yang berupa wacana lirik lagu campursari “Layang Kangen” dan “Sewu
Kutha” tersebut dinilai
cukup untuk dijadikan data penelitian. Data kemudian dicatat dan dianalisis mengenai tinjauan kontekstual dan tekstual.
3.4 Metode Analisis Data
Penelitian ini merupakan
penelitian deskriptif. Peneliti menganalisis kontekstual dan tekstual dalam lirik lagu campursari “Layang Kangen” dan “Sewu Kutha”, kemudian mendeskripsikannya secara sistematis. Untuk
mengetahui kontekstual dan tekstual
lirik lagu tersebut digunakan metode agih, yaitu metode yang
alat penentunya merupakan bagian dari bahasa yang bersangkutan, yaitu berupa wacana tulis yang dibentuk dengan
menggunakan bahasa.
3.5 Metode
Penyajian Hasil Analisis Data
Hasil
analisis data dalam penelitian ini disajikan dengan menggunakan metode
penyajian informal. Penyajian hasil analisis data secara informal adalah
penyajian hasil analisis data dengan menggunakan kata-kata yang biasa
(Sudaryanto, 1993: 145). Dalam penyajian ini, kaidah-kaidah disampaikan
dengan kata-kata biasa, kata-kata yang apabila dibaca dengan serta merta dapat
langsung dipahami.
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN
PEMBAHASAN
ANALISIS WACANA KONTEKSTUAL
DAN TEKSTUAL LIRIK
LAGU CAMPURSARI “LAYANG KANGEN” DAN “SEWU KUTHA”
4.1 Analisis Kontekstual
Lirik Lagu Campursari “Layang Kangen”
dan “Sewu Kutha”
1. Prinsip Penafsiran
Personal
Prinsip penafsiran personal
berkaitan dengan siapa yang menjadi partisipan di dalam suatu wacana.
Partisipan yang dimaksud yakni siapa penutur dan siapa mitra tutur, keduanya
sangat menentukan makna sebuah tuturan. Untuk mengetahui pelibat wacana lirik
lagu campursari “Layang Kangen” dan “Sewu Kutha”, mari kita simak kembali
lirik lagu pada kutipan di bawah ini.
Layang
Kangen
(1) Layangmu tak tampa wingi kuwi
‘Suratmu ku terima kemarin itu’
(2) Wis tak waca apa karepe atimu
‘Sudah ku baca apa maksud hatimu’
(3) Trenyuh ati iki, maca tulisanmu
‘Terharu hati ini, membaca
tulisanmu’
(4) Ra krasa netes eluh neng pipiku
‘Tidak terasa menetes air mata di
pipiku’
(5) Umpama tanganku dadi suwiwi
‘Seandainya tanganku menjadi sayap’
(6) Iki uga aku enggal bali
‘Saat ini juga aku cepat pulang’
(7) Wis kepiye maneh marga kahananku
‘Sudah bagaimana lagi karena
keadaanku’
(8) Cah ayu entenana tekaku
‘Anak cantik tunggulah kedatanganku’
(9) Ra maidu sapa wong sing ora kangen
‘Tidak munafik siapa orang yang tidak kangen’
(10) Adoh bojo pengen turu angel merem
‘Jauh
istri ingin tidur susah memejam mata’
(11) Ra maidu sapa wong sing ora trenyuh
‘Tidak munafik siapa orang yang
tidak terharu’
(12) Adoh bojo sawetara pengen weruh
‘Jauh istri sebentar ingin tahu’
(13) Percaya aku kuwatna atimu
‘Percaya aku kuwatkan hatimu’
(14) Cah ayu entenana tekaku
‘Anak cantik tunggulah
kedatanganku’
Sewu
Kutha
(1)
Sewu
kutha uwis tak liwati
‘Seribu kota sudah aku lewati’
(2)
Sewu
ati tak takoni
‘Seribu hati ku tanyai’
(3)
Nanging
kabeh padha ra ngerteni
‘Namun semua tidak ada yang tahu’
(4)
Lungamu
neng endi
‘Pergimu kemana’
(5)
Pirang
taun anggonku nggoleki
‘Berapa tahun aku mencari’
(6)
Seprene
durung bisa nemoni
‘Sampai saat ini belum bisa menemui’
(7)
Wis
tak coba nglalekake, jenengmu saka atiku
‘Sudah kucoba
melupakan, namamu dari hatiku
(8)
Saktenane
aku ora ngapusi, isih tresna sliramu
‘Sesungguhnya
aku tidak berbohong masih mencintai kamu’
(9)
Umpamane
kowe uwis mulya, lila aku lila
‘Seandainya kamu sudah bahagia,
rela aku rela’
(10)
Ya
mung siji dadi panyuwunku
‘Ya hanya satu menjadi permintaanku’
(11)
Aku
pengen ketemu
‘Aku ingin bertemu’
(12)
Senajan
wektu mung sedhela
‘Meskipun waktu
hanya sebentar’
(13)
Tak
nggo tamba kangen jroning dhadha
‘Ku pakai obat
rindu dalam dada’
(14)
Senajan
sakedheping mata
‘Meskipun satu
kedipan mata’
(15)
Tak
nggo tamba kangen jroning dhadha
‘Ku pakai obat rindu dalam dada’
Berdasarkan
aspek gramatikalnya, khususnya referensi pronomina persona, mudah diketahui
bahwa pelibat wacana dalam lirik lagu “Layang
Kangen” dan “Sewu Kutha” adalah
persona pertama tunggal aku ‘aku, saya’ dan pronomina
persona kedua tunggal –mu ‘-mu’. Unsur (seseorang atau
nama orang) yang diacu oleh pronomina persona aku ‘aku’ tidak dapat
ditemukan di dalam lagu tersebut karena sifat acuannya yang eksoforis.
Sementara itu, unsur yang diacu oleh pronomina persona –mu ‘-mu’ pada kutipan di
atas dapat ditemukan dalam lagu tersebut karena sifat acuannya yang endoforis,
yaitu seseorang yang disapa dengan kata sapaan cah ayu ‘anak cantik’ (8)
dan lungamu
‘pergimu’ (12).
Aku
dalam lagu tersebut sekurang-kurangnya mempunyai tiga tafsiran. Tafsiran
pertama, aku adalah pengarang lagu. Tafsiran kedua, aku adalah penyanyi
tertentu yang menyanyikan lagu itu untuk mempopulerkannya. Tafsiran ketiga, aku
adalah siapapun yang melantunkan lagu atau sekedar membaca lirik lagu tersebut.
Seorang
pencipta lagu yang mengarang sebuah lagu tentu dilatar belakangi oleh
faktor-faktor yang mendorong diciptakannya lagu tersebut. Dengan demikian, ada
lagu yang menggambarkan suatu keadaan tertentu yang dialami oleh seseorang,
peristiwa tertentu yang sudah terjadi, penggambaran realitas sosial, proses
atau aktivitas yang sedang berlangsung, dan penggambaran sebuah cinta dan
kerinduan yang mendalam.
Selain
aku
‘aku’, penafsiran personal yang kedua adalah penafsiran terlibat wacana
yang diungkapkan dengan –mu ‘-mu’, atau yang mengacu pada
seseorang yang disapa dengan sapaan cah ayu ‘anak cantik’ adalah kata
sapaan yang digunakan untuk menyapa seorang perempuan. Dengan demikian, pelibat
wacana pada kedua lagu tersebut adalah seorang perempuan yang sangat diharapkan
dan dirindukan kehadirannya oleh seorang kekasih atau aku yang tidak lain
adalah pencipta lagu itu sendiri.
2. Prinsip Penafsiran Lokasional
Prinsip
penafsiran lokasional berkaitan dengan penafsiran tempat atau lokasi terjadinya
suatu situasi (peristiwa, keadaan, dan proses) dalam memahami wacana. Di dalam
lagu “Layang Kangen”dan “Sewu Kutha” tidak ditemukan pronomina
demonstratif yang mengacu pada tempat terjadinya suatu situasi sehingga sulit
ditafsirkan lokasinya.
Pronomina
demonstratif pada kata sewu kutha ‘seribu kota’ (pada baris
1). Tempat kutha ‘kota’ merupakan simbol multidimensi betapa tingginya
harapan dan kerinduan seorang kekasih yang berada pada lokasi tertentu sedang
menunggu kabar dan mencari kekasih yang lama tidak berjumpa.
3. Prinsip Penafsiran Temporal
Prinsip
penafsiran temporal berkaitan dengan pemahaman mengenai waktu. Berdasarkan
konteksnya kita dapat menafsirkan kapan atau berapa lam waktu terjadinya
situasi (peristiwa, keadaan, proses). Pada baris ke-1 lirik lagu “Layang Kangen” terdapat pronomina
demonstratif waktu wingi kuwi ‘kemarin itu’, pada baris ke-5 dan 6 lirik lagu “Sewu Kutha” juga terdapat pronomina
demonstratif waktu pirang taun ‘berapa tahun’ (5), seprene ‘sampai
sekarang’ (6) seperti tampak pada
kutipan berikut:
(1)
Layangmu
tak tampa wingi kuwi (LK)
‘Suratmu
kubaca kemarin itu’
(5)
Pirang
taun anggonku nggoleki (SK)
‘Berapa
tahun aku mencari’
(6)
Seprene durung bisa nemoni (SK)
‘Sampai
saat ini belum bisa menemui’
Pronomina
demonstratif waktu wingi kuwi ‘kemarin itu’ pada lirik lagu “Layang Kangen” acuannya bersifat eksoforis, acuan berada di luar
teks. Konteks yang dipakai sebagai dasar untuk menafsirkan acuan waktu tersebut
adalah waktu diciptakannya lagu itu. Dengan kata lain pada waktu lagu itu
dikarang, lirik lagu tersebut mengacu pada waktu lampau.
Pada
pronomina demonstratif waktu pirang taun (5), seprene (6) pada lirik
lagu “Sewu Kutha” berkaitan dengan
prinsip penafsiran temporal. Hitungan jumlah waktu dalam kata pirang
taun (5), seprene (6) merupakan konteks yang menunjukkan lama waktu
terjadinya peristiwa.
4.2
Analisis Tekstual Lirik Lagu Campursari “Layang
Kangen” dan “Sewu Kutha”
1.
Analisis Aspek Gramatikal
Peranti wacana yang dimanfaatkan
oleh Didi Kempot pada lagu “Layang
Kangen” dan “Sewu Kutha” adalah
pengacuan (referensi), khususnya referensi persona pertama dan kedua, penyulihan
(substitusi), dan pelesapan (elipsis).
a. Pengacuan (Referensi)
Pengacuan
(referensi) yang dibahas adalah pengacuan persona dan demonstratif. Secara
tersurat, pengacuan komparatif tidak terdapat pada lirik kedua lagu tersebut.
1. Pengacuan Persona
Pada
lirik lagu “Layang Kangen” dan “Sewu Kutha” dapat ditemukan dua
pronomina persona, yaitu pronomina persona pertama tunggal yang terdiri atas:
(a)
pronomina pertama tunggal bentuk bebas aku ‘aku’ dan tak ‘aku’ seperti pada
kutipan berikut.
(2) Wis tak
waca apa karepe atimu ‘Sudah
kubaca apa maksud hatimu’ (LK)
(13) Percaya aku,
kuwatna atimu ‘Percaya
aku, kuatkan hatimu’ (LK)
(14) Aku pengen ketemu ‘Aku ingin bertemu’ (SK)
(b)
pronomina persona pertama tunggal bentuk terikat lekat kanan-ku
‘-ku’ seperti tampak pada kutipan berikut.
(4) Ra krasa netes eluh neng pipiku
‘Tidak terasa menetes air mata di pipiku’ (LK)
(c)
pronomina persona kedua tunggal bentuk terikat lekat kanan-mu ‘-mu’ seperti tampak
pada kutipan berikut.
(1) Layangmu tak tampa wingi kuwi ‘Suratmu
ku terima kemarin itu’ (LK)
(2) Wis tak waca apa karepe atimu ‘Sudah
ku baca apa maksud hatimu’ (LK)
(3) Trenyuh ati iki maca tulisanmu ‘Terharu hati ini membaca
tulisanmu’ (LK)
(4) Lungamu
neng endi ‘Pergimu
di mana’ (SK)
(7) Wis tak coba nglalekake, jenengmu saka atiku
‘Sudah kucoba melupakan, namamu dari
hatiku’ (SK)
Pronomina
persona kedua tunggal bentuk terikat lekat kanan-mu ‘-mu’ pada kata layangmu ‘suratmu’, tulisanmu ‘’tulisanmu, lungamu ‘pergimu’, mengacu secara
endoforis karena unsur yang diacu berada di dalam teks. Sementara pada kata atimu
‘hatimu, dan jenengmu ‘namamu’ mengacu secara eksoforis karena unsur yang diacu
berada di luar lirik teks lagu.
2. Pengacuan Demonstratif
Pengacuan
demonstratif meliputi pengacuan demonstratif waktu (temporal) dan pengacuan
demonstratif tempat (lokasional).
a) Pengacuan
demonstratif waktu (temporal) terdapat pada lirik lagu “Layang Kangen” yang diungkapkan melalui frasa wingi kuwi ‘kemarin itu’.
Pada lirik lagu “Sewu Kutha” juga
terdapat pengacuan demonstratif waktu pirang taun ‘berapa tahun’, seprene
‘sampai sekarang’ seperti tampak pada kutipan berikut:
(1)
Layangmu
tak tampa wingi kuwi
‘Suratmu
kubaca kemarin itu’
(5) Pirang
taun
anggonku nggoleki
‘Berapa
tahun aku mencari’
(6) Seprene durung bisa nemoni
‘Sampai
saat ini belum bisa menemui’
b) Pengacuan
demonstratif tempat (lokasional) terdapat pada lirik lagu “Sewu Kutha” yang diungkapkan melalui frasa sewu kutha ‘seribu kota’
(pada baris 1).
b.
Penyulihan
(Substitusi)
Penyulihan
(substitusi) merupakan salah satu jenis kohesi gramatikal yang berupa
penggantian satuan lingual tertentu dengan satuan lingual yang lain dalam
wacana untuk memperoleh unsur pembeda. Pada lirik lagu “Sewu Kutha” terdapat penyulihan satuan lingual sliramu
‘kamu’ dengan kowe ‘kamu’. Sedangkan pada lirik “Layang Kangen” terdapat penyulihan kata atimu ‘hatimu’ dengan cah
ayu ‘anak cantik’ seperti tampak pada kutipan berikut.
(8) Saktenane aku ora ngapusi isih
tresna sliramu (SK)
‘Sesungguhnya
aku tidak berbohong masih mencintai kamu’
(9)
Umpamane
kowe uwis mulya, lila aku lila
(SK)
‘Seandainya
kamu sudah bahagia, rela aku rela’
(13) Percaya
aku kuwatna atimu
‘Percaya aku kuwatkan hatimu’
(14)
Cah ayu entenana tekaku
‘Anak cantik tunggulah
kedatanganku’
c.
Pelesapan
(Elipsis)
Pelesapan (elipsis) yaitu
penghilangan satuan lingual tertentu. Pada lirik lagu “Layang Kangen”
ditentukan pelesapan pada kutipan berikut.
Layang Kangen
(1a)Trenyuh ati iki, Ø maca tulisanmu ‘Terharu
hati ini, Ø membaca tulisanmu’
(1b)Trenyuh ati iki, aku maca tulisanmu ‘Terharu
hati ini, aku membaca tulisanmu’
Sewu
Kutha
(2a)Sewu ati tak takoni Ø ‘Seribu hati ku tanyai Ø’
(2b)Sewu ati tak takoni kowe ‘Seribu
hati ku tanyai kamu’
(3a)Nanging kabeh padha ra ngerteni Ø ‘Namun semua tidak ada yang tahu Ø’
(3b)Nanging kabeh padha ra ngerteni kowe ‘Namun
semua tidak ada yang tahu kamu’
(5a)Pirang taun anggonku nggoleki Ø ‘Berapa tahun aku mencari Ø’
(5b)Pirang taun anggonku nggoleki kowe ‘Berapa tahun aku
mencari kamu’
(6a)Seprene Ø durung bisa nemoni Ø
‘Sampai saat ini Ø belum bisa menemui Ø’
(6b)Seprene aku durung bisa nemoni kowe ‘Sampai saat ini aku belum
bisa menemui kamu’
(7a)Wis tak coba nglalekake Ø ‘Sudah kucoba
melupakan Ø’
(7b)Wis tak coba nglalekake kowe ‘Sudah
kucoba melupakan kamu’
(8a)Saktenane aku ora ngapusi, Ø isih tresna
sliramu ‘Sesungguhnya aku tidak berbohong,
masih mencintai kamu’
(8b)Saktenane aku ora ngapusi, aku isih tresna sliramu ‘Sesungguhnya
aku tidak
berbohong, aku masih mencintai
kamu’
(15a) Aku pengen ketemu Ø ‘Aku ingin bertemu Ø’
(15b) Aku pengen ketemu kowe ‘Aku
ingin bertemu kamu’
Tampak pada kutipan-kutipan di atas
terjadi pelesapan berupa kata aku dan kowe. Kedua pelesapan itu
berfungsi sebagai subyek atau pelaku tindakan pada kutipan tuturan tersebut.
Hal ini menunjukkan bahwa dengan terjadinya peristiwa pelesapan maka kutipan
tuturan itubmenjadi lebih efektif, efisien, wacananya menjadi kohesif dan
praktis dalam komunikasi.
2. Analisis Aspek Leksikal
Aspek
leksikal adalah hubungan antara unsur dalam wacana secara semantis. Dalam
analisis aspek leksikal untuk menandai koherensi pada lagu “Layang Kangen” dan “Sewu
Kutha” terdapat tiga macam penanda, yaitu repetisi (perulangan), dan sinonimi
(padan kata).
a.
Repetisi
(Perulangan)
Repetisi (perulangan) adalah
perulangan satuan lingual (bunyi, suku kata, kata, atau bagian kalimat) yang
dianggap penting untuk memberi tekanan dalam sebuah konteks yang sesuai
(Sumarlam, 2003: 34).
1. Repetisi Epizeuksis
Repetisi epizeuksis adalah
perulangan kata yang dipentingkan beberapa kali secara berturut-turut. Dalam
lirik lagu “Sewu Kutha” terdapat
repetisi epizeuksis, berikut ini kutipannya.
(1) Sewu Kutha uwis tak liwati
‘Seribu kota sudah aku lewati’
(2) Sewu ati tak takoni
‘Seribu hati ku tanyai’
2.
Repetisi
Utuh
Repetisi utuh adalah perulangan
satuan lingual yang berupa kalimat. Dalam lirik lagu “Layang Kangen” terdapat repetisi utuh yakni tampak pada baris (8)
dan (14) berikut ini.
(7)
Wis kepiye maneh marga kahananku
‘Sudah bagaimana lagi karena keadaanku’
(8)
Cah
ayu entenana tekaku ‘Anak cantik tunggulah
kedatanganku’
(13)
Percaya aku kuwatna atimu ‘Percaya aku kuatkan hatimu’
(14)
Cah
ayu entenana tekaku ‘Anak cantik tunggulah
kedatanganku’
Lirik lagu “Sewu Kutha” terdapat repetisi utuh yakni tampak pada baris (13)
dan (15) berikut ini.
(12) Senajan wektu mung sedhela ‘Meskipun waktu hanya
sebentar’
(13) Tak
nggo tamba kangen jroning dhadha ‘Ku
pakai obat rindu dalam dada’
(14) Senajan sakedheping mata ‘Meskipun satu kedipan
mata’
(15) Tak
nggo tamba kangen jroning dhadha ‘Ku pakai obat rindu
dalam dada’
b.
Sinonimi
(Padan kata)
Sinonimi
(padan kata) adalah salah satu aspek leksikal untuk mendukung kepaduan wacana.
Sinonimi berfungsi untuk menjalin hubungan makna yang sepadan antara satuan
lingual tertentu dengan satuan lingual lain dalam wacana. Dalam lirik lagu “Layang Kangen” terdapat sinonimi morfem (bebas) dengan morfem
terikat. Seperti pada kutipan berikut.
(5) Umpama tanganku dadi suwiwi (LK)
‘Seandainya tanganku menjadi sayap’
(6) Iki uga aku enggal bali (LK)
‘Saat ini juga aku cepat pulang’
(15)
Wis
tak coba nglalekake, jenengmu saka atiku (SK)
‘Sudah kucoba
melupakan, namamu dari hatiku
(16)
Saktenane
aku ora ngapusi, isih tresna sliramu (SK)
‘Sesungguhnya
aku tidak berbohong, masih mencintai kamu’
(18)
Ya
mung siji dadi panyuwunku (SK)
‘Ya hanya satu menjadi permintaanku’
(19)
Aku pengen ketemu (SK)
‘Aku
ingin bertemu’
Pada
kutipan di atas, morfem bebas aku ‘aku’ bersinonimi dengan morfem
terikat kanan-ku.
BAB V
PENUTUP
5.1 Simpulan
Berdasarkan hasil
penelitian mengenai kajian
kontekstual dan tekstual dalam lirik lagu “Layang
Kangen” dan “Sewu
Kutha” dapat disimpulkan sebagai berikut:
1. Seorang
pencipta lagu yang mengarang sebuah lagu tentu dilatar belakangi oleh
faktor-faktor yang mendorong diciptakannya lagu tersebut. Dengan demikian, ada
lagu yang menggambarkan suatu keadaan tertentu yang dialami oleh seseorang,
peristiwa tertentu yang sudah terjadi, penggambaran realitas sosial, proses
atau aktivitas yang sedang berlangsung, dan penggambaran sebuah cinta dan
kerinduan yang mendalam.
2. Secara
kontekstual, pelibat wacana dalam lirik lagu “Layang Kangen” dan “Sewu
Kutha” dapat dipahami melalui prinsip penafsiran personal, lokasional, dan
temporal berdasarkan konteks situasi, sosial dan kultural. Berdasarkan prinsip
penafsiran personal, terdapat dua pelibat wacana dalam lirik lagu tersebut
yaitu aku (pengarang), cah ayu dan kowe (seorang perempuan) yang sangat diharapkan dan dirindukan
kehadirannya oleh seorang kekasih atau aku yaitu pencipta lagu itu sendiri.
3. Secara
tekstual, analisis gramatikal yang terdapat pada lagu “Layang Kangen” dan “Sewu
Kutha” adalah pengacuan (referensi), khususnya referensi persona pertama
dan kedua, penyulihan (substitusi), dan pelesapan (elipsis). Sedangkan analisis
aspek leksikal untuk menandai koherensi pada lagu “Layang Kangen” dan “Sewu Kutha”
terdapat tiga macam penanda, yaitu repetisi (perulangan), dan sinonimi (padan
kata).
5.2 Saran
Saran
yang diberikan dalam
penelitian ini adalah perlu dilakukan penelitian sejenis sehingga aspek-aspek
yang membangun wacana lirik lagu dapat diketahui dengan jelas. Selain itu,
perlu dilakukan penelitian wacana lain seperti prosa, puisi, drama, iklan,
gambar, dan sebagainya dengan maksud memperkaya khasanah penelitian wacana.
DAFTAR PUSTAKA
Henry
Guntur Tarigan. 2009. Pengajaran Wacana.
Bandung: Angkasa.
Herman
J Waluyo. 2008. Pengkajian dan Apresiasi
Puisi. Salatiga: Widya Sari.
Muhammad
Rohmadi. 2011. Analisis Wacana Pragmatik
Kajian Teori dan Analisis. Surakarta: Yuma Pustaka.
Rachmat
Djoko Pradopo. 1995. Pengkajian Puisi.
Yogyakarta: UGM Press.
Sumarlam.
2008. Analisis Wacana: Teori dan Praktik.
Surakarta: Pustaka Caraka.
_________.
(Ed). 2008. Analisis Wacana: Iklan, Lagu,
Puisi, Cerpen, Novel, Drama. Surakarta:
BukuKatta.
LAMPIRAN
Layang Kangen
Ciptaan
Didi Kempot
(1) Layangmu tak tampa wingi kuwi
‘Suratmu ku terima kemarin itu’
(2) Wis tak waca apa karepe atimu
‘Sudah ku baca apa maksud hatimu’
(3) Trenyuh ati iki, maca tulisanmu
‘Terharu hati ini, membaca
tulisanmu’
(4) Ra krasa netes eluh neng pipiku
‘Tidak terasa menetes air mata di
pipiku’
(5) Umpama tanganku dadi suwiwi
‘Seandainya tanganku menjadi sayap’
(6) Iki uga aku enggal bali
‘Saat ini juga aku cepat pulang’
(7) Wis kepiye maneh marga kahananku
‘Sudah bagaimana lagi karena
keadaanku’
(8) Cah ayu entenana tekaku
‘Anak cantik tunggulah kedatanganku’
(9) Ra maidu sapa wong sing ora kangen
‘Tidak munafik siapa orang yang tidak kangen’
(10) Adoh bojo pengen turu angel merem
‘Jauh
istri ingin tidur susah memejam mata’
(11) Ra maidu sapa wong sing ora trenyuh
‘Tidak munafik siapa orang yang
tidak terharu’
(12) Adoh bojo sawetara pengen weruh
‘Jauh istri sebentar ingin tahu’
(13) Percaya aku kuwatna atimu
‘Percaya aku kuwatkan hatimu’
(14) Cah ayu entenana tekaku
‘Anak cantik tunggulah
kedatanganku’
Sewu
Kutha
Ciptaan
Didi Kempot
(1)
Sewu
kutha uwis tak liwati
‘Seribu kota sudah aku lewati’
(2)
Sewu
ati tak takoni
‘Seribu hati ku tanyai’
(3)
Nanging
kabeh padha ra ngerteni
‘Namun semua tidak ada yang tahu’
(4)
Lungamu
neng endi
‘Pergimu kemana’
(5)
Pirang
taun anggonku nggoleki
‘Berapa tahun aku mencari’
(6)
Seprene
durung bisa nemoni
‘Sampai saat ini belum bisa
menemui’
(7)
Wis
tak coba nglalekake, jenengmu saka atiku
‘Sudah kucoba
melupakan, namamu dari hatiku
(8)
Saktenane
aku ora ngapusi, isih tresna sliramu
‘Sesungguhnya
aku tidak berbohong masih mencintai kamu’
(9)
Umpamane
kowe uwis mulya, lila aku lila
‘Seandainya kamu sudah bahagia,
rela aku rela’
(10)
Ya
mung siji dadi panyuwunku
‘Ya hanya satu menjadi permintaanku’
(11)
Aku
pengen ketemu
‘Aku ingin bertemu’
(12)
Senajan
wektu mung sedhela
‘Meskipun waktu
hanya sebentar’
(13)
Tak
nggo tamba kangen jroning dhadha
‘Ku pakai obat
rindu dalam dada’
(14)
Senajan
sakedheping mata
‘Meskipun satu
kedipan mata’
(15)
Tak
nggo tamba kangen jroning dhadha
‘Ku pakai obat rindu dalam dada’
Tidak ada komentar:
Posting Komentar